Thursday, April 18, 2013

Persaudaraan Muslimah di Taiwan

OLEH dr NOVI MAULINA, menempuh Short-Course bahasa Mandarin di National Sun Yat-Sen University, melaporkan dari Taiwan

Kaulah ibuku, cinta kasihku, terima kasihku takkan pernah terhenti.
Kau bagai matahari yang selalu bersinar, sinari hidupku dengan kehangatanmu.

Alunan lagu Ibu yang dipopulerkan Haddad Alwi dan Farhan ini terdengar indah di sebuah sudut Kota Taipei, Ahad, 14 April lalu. Terlihat suasana haru dan mata berkaca-kaca dari para undangan saat sekelompok mahasiswi Aceh (Hualien Voice) yang sedang studi di National Dong Hwa University (NDHU) membawakan lagu Ibu ini dalam acara deklarasi Salimah (Persaudaraan Muslimah) Taiwan. 

Hari itu muslimah Indonesia di Taiwan menyelenggarakan deklarasi dan pelantikan pengurus Salimah Cabang Taiwan, Talkshow “Keluargaku, Surgaku”, dan pelatihan wirausaha yang diisi Ketua Umum Salimah Pusat, Hj Nurul Hidayati MBA, dan Ibu Ir Etty Pratiknyowati.

Organisasi kemasyarakatan yang bergerak dalam bidang pemberdayaan muslimah, pengokohan institusi keluarga, serta perlindungan memadai bagi anak ini, disambut hangat oleh semua pihak. Berdasarkan data terkini, sekitar 193.000 warga Indonesia di Taiwan dan 80%-nya adalah pekerja wanita dengan segala permasalahannya, sehingga kehadiran organisasi khusus muslimah ini dirasakan amat perlu. “Terutama untuk mengisi ruang amal bagi wanita Indonesia di Taiwan yang jauh dari keluarga,” kata Ahmad Syafrie, Ketua Kamar Dagang dan Ekonomi Indonesia (Kadin) yang turut hadir membuka acara.

Saat Talkshow “Keluargaku, Surgaku” yang membahas tentang bagaimana membangun hubungan positif dalam keluarga, muncul pertanyaan menarik dari seorang ibu. Ia mengaku punya anak-anak yang sudah bersekolah dan sangat fasih berbahasa Mandarin, sehingga si ibu terkadang sulit mengontrol buku bacaan si anak. Ironisnya lagi, mereka kurang suka apabila diberikan buku bacaan berbahasa Indonesia yang dianggap oleh si orang tua lebih bagus. 

Terhadap pertanyaan ini, Bu Nurul memberi tip komunikasi efektif pada anak dan mengajarkan para ibu tentang kerendahan hati untuk saling belajar bahasa dan tidak sekadar memprotes anak. Kemampuan berbahasa ini dirasakan cukup penting, dengan melihat karakter positif dari masyarakat Taiwan sendiri. Ibu Nurul mengungkapkan betapa secara umum warga Taiwan memiliki sifat-sifat yang sesuai dengan fitrah manusia, seperti senang akan kebersihan, ramah, fair (jujur), suka menolong, dan tidak merendahkan orang lain.

Menurut beliau, ini adalah karakter potensial yang memungkinkan si anak yang gandrung berbahasa Mandarin untuk bisa dijuruskan ke arah yang lebih baik dan ini tentu saja dilakukan lewat komunikasi dengan bahasa yang mereka pahami.

Dalam sesi pelatihan wirausaha yang mengusung tema “Memulai Usaha Mandiri dengan Jiwa Wirausaha”, Kabid Ekonomi, Sosial, dan Kesehatan Lingkungan Salimah Pusat yang juga lulusan Teknik Pangan UGM ini menyatakan, wirausaha adalah bentuk tradisi kebaikan lain yang perlu diupayakan untuk membawa keberkahan bagi kehidupan bermasyarakat melalui indikasi kemakmuran. 

Berbicara tentang kemakmuran, Bu Etty mengatakan, ketika seseorang makmur ia akan dengan bahagia menjalankan aktivitasnya dan tenang dalam mencari rezeki. 

Adapun Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index/ HDI) Indonesia kembali merosot dari peringkat 104 di tahun 2010 menjadi peringkat 124 dari 189 negara di tahun 2011 di bawah Palestina, Thailand, Filipina, bahkan Vietnam. 

Hal ini disebabkan kemiskinan yang masih membelit penduduk yang mengakibatkan pada rendahnya kondisi ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Walaupun ini semua merupakan indikasi fisik, namun kefakiran (kemiskinan), seperti disabdakan Rasulullah saw, dapat mendekatkan kita pada kekafiran. Sehingga penting bagi para muslimah untuk membekali diri semaksimal mungkin dengan berbagai ilmu sebelum terjun ke dunia wirausaha. Sebagaimana sabda Rasulullah saw bahwa barangsiapa menginginkan dunia dan akhirat sekaligus maka harus dengan ilmu. Demikianlah sifat ilmu yang terus meninggikan derajat para pencarinya.

Oleh karenanya, semoga kehadiran ormas ini dapat menjadi wadah bagi perempuan Indonesia di Taiwan untuk terus belajar, mengembangkan diri sehingga dapat membangun keluarga dan peradaban yang baik meski berada jauh dari Tanah Air.

Tulisan ini juga dipublish di Serambi Indonesia

0 comments:

Post a Comment