Ranup Lampuan

Aceh student Association in Taiwan

Likok Pulo

Memperknalkan marwah bangsa dan budaya adalah kewajiban bagi kami, walau jauh dari negeri "Indatu"

Halal Bihalal Idul Adha 2012

Kebersamaan di hari yanng mulia adalah kebahagian yang tak terkira hidup di negeri orang

Edventure

Merasakan apa yang belum pernah ada di negeri sendiri adalah cita-cita dari setiap individu

Taipei 101

"If you can dream it, you can do it" Bermimpilah setinggi-tingginya.

Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Wednesday, October 9, 2013

KHAIRUL RIJAL DJAKFAR :“SEMANGAT!,TOEFL DIBAWAH 500 BISA KULIAH DI LUAR NEGERI”

Nama saya Khairul Rijal, dalam bahasa Arab berarti “Laki-laki yang paling Baik”. Nama adalah do’a dan orang tua saya tentu berharap saya menjadi orang baik dan tentu juga bernasib baik. :-)
Sejak kecil saya ingin selalu ke luar negeri, waktu SD, di TVRI saya sangat suka film-film dari luar. Sehingga, sejak saat itu sudah tertanam dalam diri saya agar suatu saat bisa ke luar negeri.
Masalahnya adalah saya sangat malas belajar terutama Bahasa Inggris. Sejak SMP, Bapak saya telah membeli buku ENGLISH GRAMMAR agar saya rajin belajar dan dapat nilai tinggi. Namun lagi-lagi, karena malas saya tak sanggup menghafal dan mengingat-ingat Verb 1, 2, dan 3. apalagi jika menyusun kalimat/sentences dan structure. Pasti akan sangat kacau.
Disisi yang lain, aatu kebiasaan dan jadi hoby saya adalah sangat suka nonton film dan mendengar lagu-lagu barat (english, jadi walaupun saya tidak bisa menulis dan mempraktekkan Bahasa Inggris tapi saya tahu sedikit-banyak kosa kata/vocabulary karena hoby tersebut.
Dari TK sampai S1 orang tua membiayai saya kuliah. Tamat S1 saya lulus PNS di Kabupaten Aceh Timur. Sebagai daerah konflik saat itu, sangat tidak mudah bagi saya untuk belajar memperdalam Bahasa Inggris. Sambil bekerja saya terus mencari jalan mewujudkan impian ke luar negeri. Satu-satunya jalan yang saya lihat adalah dengan kuliah. Tentu saja, kuliah dengan mendapatkan beasiswa.
Tahun 2004 terjadi Gempa Bumi dan Tsunami di Aceh. Sungguh meninggalkan luka yg mendalam. Saat itu banyak bantuan dari luar negeri datang dan salah satunya adalah beasiswa khusus bagi korban tsunami dan masyarakat Aceh. Saya mencoba mendaftar, baik itu IIEF, ADS, APS dan STUNED namun semuanya mensyaratkan TOEFL sementara saya tidak pernah tahu apa itu TOEFL dan bagaimana mengikuti tesnya. Sehingga saya gagal mendapatkan beberapa beasiswa tersebut.
Pada 2006 saya akhirnya mendapatkan beasiswa tugas belajar S2 ke UGM Yogyakarta, selama disana saya mengikuti tes TOEFL dan jadi paham apa itu TOEFL. Salah satu persyaratan wisuda adalah melampirkan hasil tes TOEFL, namun hasil saya tidak pernah mencapai skor 500. Saya beruntung saat itu tidak perlu harus skor 500 untuk bisa lulus dan wisuda.
Di tahun 2008 saya kembali berdinas di kantor dan sejak saat itu pula saya selalu mendaftar Beasiswa Pemerintah Aceh ke Luar Negeri. Lagi-lagi karena TOEFL saya tidak mencapai 500 maka saya selalu gagal tiap tahunnya.
Namun saya tidak menyerah, saya berpikir jika saya selalu gagal karena tidak bisa menaikkan TOEFL sampai 500 maka mengapa saya tidak mencari beasiswa yang bisa menerima hasil TOEFL saya. Akhir 2011, dengan informasi dari teman maka saya mendaftar untuk mendapatkan Beasiswa S2 (lagi) dari salah satu kampus di Taiwan. Akhirnya, Alhamdulillah saya lulus, walaupun hanya mendapat half-scholarship yaitu pembebasan biaya kuliah/tuition waiver dan asrama/dormitory. Sementara untuk biaya hidup mengandalkan tabungan dan berjualan voucher pulsa kepada teman-teman mahasiswa. Sedangkan gaji saya selaku PNS saya serahkan untuk istri yang tinggal bersama anak saya di Langsa.
Sekarang saya sudah masuk semester kedua dan Alhamdulillah nilai di semester pertama cukup bagus dan perkuliahan di Taiwan dengan Bahasa Inggris bisa saya ikuti dengan baik sambil berharap saat nanti mengikuti tes TOEFL lagi, nilai saya bisa mencapai tidak hanya 500 tapi sampai 600. Why not?
Saya yakin, walau TOEFL tinggi menjadi syarat utama kelulusan beasiswa tapi bukan berarti dengan TOEFL rendah kita tidak bisa kuliah di Luar Negeri.
Tetap semangat! Jiayooo!

ZAUJATUL AMNA AFGANURISFA : “MAN JADDA WA JADDA”

Belajar di luar negeri, sejujurnya bukan soal gengsi, tapi lebih kepada belajar mencari hikmah yang berserakan di muka bumi. “…bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumuah : 10). Hai Kawan, kenalkan nama saya Zaujatul Amna Afganurisfa (yang kini baru lima bulan menyandang gelar Master of Counseling and Clinical Psychology). Saya berasal dari Aceh, setiap orang percaya setiap nama memiliki doa yang baik bagi anak-anaknya, demikian halnya dengan orang tua saya sehingga saya diberi nama seperti itu yang bearti istri yang setia (wallahualam, itu hanya sebuah doa buat saya kelak).
Mendapatkan Beasiswa keluar negeri adalah impian setiap orang, termasuk saya. Beasiswa merupakan salah cara akses untuk bisa stay dan kuliah di luar negeri, juga travelling ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi. Awalnya nggak pede buat applybeasiswa, karena IPK pas-pasan dan nilai yang paling buruk adalah nilai TOEFL yang hanya 400. Jangankan di luar negeri, Indonesia saja untuk lanjutin master rasanya lewat sebagai mahasiswa cadangan. Tapi karena keinginan yang kuat, akhirnya saya bisa melanjutkan S2 di ASIA UNIVERSITY (AU Taiwan) yang dikenal dengan sebutan “the most beautiful campus in Taiwan” untuk Jurusan Psychology yang pada saat itu menjadi salah satu program international di Taiwan.
Sekarang, Saya akan berbagi pengalaman saya mendapatkan kesempatan beasiswa dan kerja part-time di luar negeri, semoga ini bisa menjadikan motivasi bagi teman-teman untuk mendapatkan kesempatan kuliah di luar negeri. Cerita ini berawal dari satu setengah tahun lalu. Ketika saat itu saya menjadi satu-satunya dari Aceh yang berhasil mendapatkan beasiswa dari pemerintahan Taiwan, “the Department of Social Welfare (DSW) of Taipei City Government” untuk melanjutkan Master of Counseling and Clinical Psychology di Asia University di Taiwan.
Tak mudah bagi saya untuk mendapatkan semua itu. Butuh jerih payah dan usaha yang tak kenal lelah. Mulai dari saya harus membenahi bahasa inggris saya yang sangat amburadul. Saya terpaksa ambil kelas malam. Kerja dari jam 08.00-15.00, dari jam 19.30 – 21.20 saya ikut les bahasa inggris. Semangat yang tak pernah karam dalam diri saya untuk bisa melanjutkan pendidikan. Saya mulai ikutin seleksi lembaga penyediaan beasiswa Aceh, juga ikut dalam seleksi beasiswa online di beberapa negara yang menjadi pilihan saya. Walaupun capek saya tetap istiqomah dngan mimpi-mimpi saya. Setiap perjuangan pasti akan ada rintangan dan ujian, demikian juga dengan saya. Ujian demi ujian saya temui.
Ketika saya dinyatakan lulus dari sebuah lembaga penyediaan beasiswa di salah satu lembaga di Aceh, saya merasa keberhasilan sudah bisa saya genggam. Namun, Allah SWT menguji saya, dikarenakan sesuatu hal nama saya tercoret dari daftar penerima beasiswa itu, dengan penjelasan yang tidak masuk akal menurut saya, saya hanya bisa pasrah dan dengan berat hati saya melepaskan. Mungkin Allah punya rencana lain buat saya. Begitulah kalimat yang keluar dari mulut saya untuk membesarkan hati. Impian melanjutkan kuliah di luar negeri pupus sudah. Namun, rasa pantang menyerah dan terus berusaha tetap saya jalani, demi mencapai cita-cita. Saya yakin bahwa,”siapa yang bersungguh, maka dia akan mendapatkan hasilnya”. Kata-kata ini menjadi motivasi buat saya, untuk mencoba dan terus mencoba, sampai akhirnya saya mengirim berkas aplikasi beasiswa berikutnya, ikut seleksi beasiswa di sebuah jejaring kampus tingkat international lainnya di wilayah Asia.
Setelah tiga bulan berlalu, saya sempat dihinggapi perasaan was-was karena belum ada kabar apapun tentang beasiswa tersebut. Dengan sikap positif, saya terus melanjutkan aktiviatas les saya seperti biasa, tak lupa terus berdoa dan saya serahkan semuanya kepada Allah sambil terus memegang kata-kata “ajaib” yang saya yakini benar: “man jadda wa jadda” (Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan mendapatkan hasilnya).
Ternyata Allah menjawab doa saya. Ketika akhirnya hari Jum’at di bulan Juni, 2011 lalu saya mendapatkan telepon langsung dari Taiwan dan saya dinyatakan sebagai penerima tunggal asal Aceh yang lolos seleksi beasiswa dari pemerintah Taipe untuk meneruskan kuliah Master Psikologi di Taiwan. Rasa tidak percaya menghinggapi ketika saya dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa dari pemerintahan Taiwan. Tak berhenti disitu, ternyata Allah SWT menambahkan kebahagiaan saya, dengan mendapatkan dua beasiswa sekaligus: dari pemerintahan Taiwan, juga dari kampus di Taiwan tempat di mana saya memilih untuk melanjutkan master psikologi.
Akhirnya, saya harus memilih salah satu dari dua beasiswa itu. Rasa ketidakpercayaan diri kembali menyergap saya saat diminta mengurus keperluan seperti passport, visa dan legalisir beberapa dukumen lainnya untuk keberangkatan ke Taiwan pada September 2011. Namun, lagi-lagi rasa ingin melanjutkan sekolah lebih besar dari rasa deg-degan yang menghinggapi jiwa saya saat itu. “Ini pengalaman baru dan ini tugasku untuk menyambut dunia baruku dan Taiwan akan menjadi Aceh di hatiku,” batin saya kemudian untuk menyemagati diri saya sendiri. Setelah 1 tahun kemudian saya berada di tanah formosa (istilah lain dari Negara Taiwan – Republik of Cina) banyak pengalaman yang bisa saya petik dari negara kepulauan yang kecil ini. Arti tentang keramahtamahan taiwanese peopleculture, season yang berbeda, dan dunia pendidikan.
Selama di Taiwan, saya merasa bahwa saya seperti sedang di Aceh. Kekerataban, rasa kekeluargaan yang terjalin di antara mahasiswa internasional maupun lokal, selalu menjadi bagian cerita tersendiri buat saya. Betapa menyenangkan mengenal dan mendalami banyak budaya dari berbagai mancanegara. Rasa syukur tak henti-hentinya saya ucapkan kepada-Nya ketika saya diberi kepercayaan untuk bisa sekolah di luar negeri, mendapatkan kesempatan beasiswa international, bertemu dan belajar dengan orang asing yang belum pernah kenal sebelumnya, mengenal metode baru dalam dunia pendidikan.
Setiap akhir semester, Allah seperti terus menerus memberi kejutan demi kejutan buat saya dalam bentuk angka-angka sempurna di lembar prestasi akademik seorang mahasiswa. Alhamdulillah Rabbku, Engkau menyempurnakan kebahagiannku, menutup semester demi semester mendekati angka sempurna ..I liked it. That’s a gift from God, that I never had before. Kebahagiaan lainnya, di sejumlah agenda kuliah, saya kembali diberi kepercayaan sebagai penghubung sebuah maskapai terkenal Indonesia (kantor pusat di Taipe) dengan pelajar Indonesia yang berada di Taiwan, dalam penjualan tiket khusus mahasiswa Indonesia Taiwan yang sudah berjalan hampir kurang 1 tahun 5 bulan. Dan yang lainnya saya dipercaya untuk magang di International Hospital TaichungRen-Ai Hospital sebagai Indonesia Services selama 5 bulan sebelum saya balik ke Indonesia, juli 2013 lalu”.
Di sisi lain, dengan segala keterbatasan yang saya miliki, saya terus berusaha membenahi bahasa inggris, bertahan demi cita-cita, akhrnya tahun 2013 bulan Mei saya lulus menyandang gelar Master saya dengan masa study 1 tahun, 8 bulan. Tuhan seolah-olah terus menerus menaburi saya dengan kebahagiaan dan kado-kado terindahnya. Something just happens when we believe. “Hidup adalah proses, hidup adalah belajar. Tanpa ada batas umur dan tanpa ada kata-kata menyerah dan putus asa. Ketika “jatuh” berdiri lagi, ketika “kalah” mencoba lagi, dan ketika gagal terus bangkit lagi. Never give up . Teruslah belajar dan belajar, Sampai akhirnya Allah berkata “telah tiba waktunya untuk kembali.” Maka berjuanglah sebanyak-banyaknya, Karena dari sana kita akan banyak belajar dan belajar, menjadi sosok yang lebih baik dan bermanfaat bagi sekitar. Selamat berjuang dan selamat bertebaran di muka bumi, yakinlah “man jadda wajadda”. “Jika apa yang saya dapatkan hari ini adalah sebuah keajaiban, maka keajaiban itu adalah bagian dari kerja keras” (Zaujatul Amna Afganurisfa, 2013)