Ranup Lampuan

Aceh student Association in Taiwan

Likok Pulo

Memperknalkan marwah bangsa dan budaya adalah kewajiban bagi kami, walau jauh dari negeri "Indatu"

Halal Bihalal Idul Adha 2012

Kebersamaan di hari yanng mulia adalah kebahagian yang tak terkira hidup di negeri orang

Edventure

Merasakan apa yang belum pernah ada di negeri sendiri adalah cita-cita dari setiap individu

Taipei 101

"If you can dream it, you can do it" Bermimpilah setinggi-tingginya.

Showing posts with label Pesan Aduen. Show all posts
Showing posts with label Pesan Aduen. Show all posts

Monday, February 17, 2014

Mayoritas Guru SD Taiwan Bergelar Master

OLEH MUSLEM DAUD, MEd.Mgmt, Dosen Universitas Serambi Mekkah, sekarang studi doktoral di NTCU Taiwan, Taichung-Taiwan
SEMESTER ini (semester III) banyak hal baru dari sisi akademik maupun nonakademik yang saya dapatkan sebagai mahasiswa di program doktoral (S3/PhD) di Universitas Pendidikan Negeri Taichung Taiwan (NTCU), Republik Cina. Salah satunya adalah mayoritas guru sekolah dasar (SD) di Taiwan ternyata bergelar master (S2).
Kondisi ini tentu berbeda jika ingin kita bandingkan dengan situasi kita di mana masih ada tenaga pengajar di perguruan tinggi yang masih memperbantukan tenaga pengajar bergelar S1. Sementara di Taiwan, guru yang sehari-hari mengajar di jenjang SD, sebagian besarnya sudah mengantongi ijazah S2. Jika kita merujuk ke Undang-Undang Sisdiknas 2003 yang mensyaratkan ijazah S2 sebagai tingkat pendidikan terendah menjadi dosen, maka sebagian besar guru SD di Taiwan sudah memenuhi kualifikasi jadi dosen di Indonesia.
Apa yang saya sampaikan ini benar-benar sebuah kejutan dari sebuah penelusuran sederhana yang tidak pernah saya rencanakan. Rasa keingintahuan saya muncul ketika awal semester ini ada satu mata kuliah yang mahasiswanya digabung antara mahasiswa lokal (berasal dari Taiwan) dan mahasiswa internasional (berasal luar Taiwan, Korea Selatan, Vietnam, Thailand, dan Indonesia). Pada semester-semester lalu, dalam kelas internasional tak ada mahasiswa lokal, tapi kali ini benar-benar beda. Dalam pikiran saya, ini kesempatan bagus untuk mendapatkan wacana dan pemahaman baru dari sudut pandang berbeda lewat berbagai presentasi, adu argumentasi, dan seterusnya.
Tak ada yang berbeda dalam bulan pertama dan kesan yang ada adalah saya bersama rekan kelas internasional lainnya mendapatkan kesempatan bagus untuk belajar dengan mahasiswa/i lokal.
Pada bulan kedua, sudah mulai ada persentasi, pemaparan ide, dan tanya jawab yang intens di dalam kelas. Hal ini dikarenakan sebelum memaparkan presentasi mereka memperkenalkan diri yang membuat mahasiswa internasional tercengang sekalipun kami coba menutupinya. Di slide pertama presentasi mereka cantumkan nama beserta tempat mereka bekerja. Ternyata, rata-rata rekan sekelas saya itu guru SD. Hanya dua orang yang dosen. Kenyataan di atas itulah membuat saya ingin mengetahui lebih jauh tingkat pendidikan guru SD Taiwan mengingat rekan-rekan sekelas kami tersebut sekarang sedang mengambil program doktor. Bagaimana dengan guru-guru SD lainnya?
Berdasarkan pertanyaan di atas, saya meminta waktu berdiskusi dengan beberapa rekan tersebut. Diskusi pertama saya lakukan dengan rekan bernama Lu-Yu Ju, guru SD Li Xing Xiao Xue di Kecamatan Bei Xi Taichung. Ia katakan, di sekolahnya paling kurang terdapat 80% guru sudah S2, sementara 5% persennya sudah S3.
Diskusi kedua saya lakukan dengan rekan bernama Bai-Xiao Shan, guru SD Chang Hua Xiao Xue di Kecamatan Chang Hua. Menurutnya, di sekolahnya paling kurang 60% guru sudah S2, sementara 4% sudah S3. Ia tambahkan bahwa sekolahnya tergolong sekolah besar sehingga kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi harus disiasati dengan beban mengajar bagi guru-guru. 
Sementara itu, diskusi ketiga saya lakukan dengan rekan bernama Shih-Hsiu Chia, guru SD Guan Fu Xiao Xue, berasal dari luar Kota Taichung (Kabupaten Nantao). Ia sebutkan bahwa di sekolahnya paling kurang 80% guru sudah S2, sementara 10% persennya S3.
Untuk mengkroscek informasi itu, saya minta kesempatan untuk berdiskusi dengan rekan bernama Chun-Jey Chang, pegawai Dinas Pendidikan Kota Taichung. Ia juga salah seorang mahasiswa di dalam kelas kami kali ini. Dia tak dapat menyebutkan secara pasti berapa persentasi guru Taichung yang sudah S2. Namun ia perkirakan 70% hingga 80% sudah S2 dan antara 3% hingga 7% sudah S3. Sementara sisa lainnya masih S1 yang terdiri atas guru baru diangkat atau guru-guru yang akan memasuki masa pensiun.
Berdasarkan paparan di atas, maka analogi sederhananya, jika guru SD saja rata-rata sudah S2 (bahkan sudah S3), maka guru SLTP, apalagi SLTA hampir dapat dipastikan persentase tingkat pendidikan, khususnya yang sudah S2 pasti lebih tinggi. Pantas saja Taiwan selalu berada di peringkat dunia dalam pencapaian prestasi pendidikan, karena guru-guru mereka berpendidikan lebih tinggi satu hingga dua tingkat dari guru-guru lain di dunia (lihat hasil PISA 2013). Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan ini menginspirasi kita di Aceh, daerah yang salah satu keistimewaannya justru di bidang pendidikan.
Tulisan ini juga di publish di koran Serambi Indonesia

Thursday, August 15, 2013

7 Resep Menyiasati Beasiswa ke Taiwan

OLEH MUSLEM DAUD, PhD Student, penerima sharing beasiswa Universitas NTCU Taiwan dan Pemerintah Aceh, Taichung-Taiwan
BANYAKNYA negara dan organisasi yang menawarkan beasiswa kepada putra-putri Aceh, ternyata belum termanfaatkan maksimal. Boleh jadi ini disebabkan peminat hanya disuguhi peluang, tanpa diikuti pejelasan bagaimana menyiasati peluang tersebut menjadi kenyataan.
Pemerintah Aceh dan Pemerintah Taiwan, melalui Elite Study in Taiwan (ESIT) telah meneken MoU yang salah satu poinnya Pemerintah Taiwan menggratiskan uang kuliah putra-putri Aceh yang tertarik belajar Taiwan. Sedangkan Pemerintah Aceh menanggung biaya hidupnya.
Kesepakatan ini patut disyukuri, karena biaya kuliah di Taiwan tergolong mahal, sehingga dengan adanya MoU ini pemerintah dengan budget yang sama dapat mengirim lebih banyak plagi utra-putri Aceh yang berminat melanjutkan kuliah ke Taiwan. Ini merupakan peluang bagus. Namun, untuk mendapatkan kesempatan ini seyoginya perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: Pertama, tingkatkan terus kemampuan bahasa Inggris Anda, sehingga memperoleh skor nilai Test of English as Foreign Language (TOEFL) 500 ke atas. Syarat nilai ini berlaku umum untuk program S2 dan S3. Pilihan bahasa lainnya adalah bahasa Cina/Mandarin dengan sertifikat tingkat 3 atau 4 (advance).
Sejumlah negara juga mensyaratkan nilai TOEFL yang sudah disebutkan dan nilai TOEFL standar ini yang juga dipegang oleh Lembaga Peningkatan Sumber Daya Manusia (LPSDM) Aceh ketika kesempatan beasiswa dibuka. Dengan demikian, jika nilai 500 TOEFL sudah ada di tangan, maka si peminat sudah punya tiket yang sewaktu-waktu dapat digunakan ketika kesempatan beasiswa diumumkan.
Sembari menunggu kesempatan tersebut datang, maka hal kedua yang perlu diperhatikan adalah jika peminat memilih untuk belajar dalam bahasa Inggris di Taiwan, maka pastikan bahwa universitas yang dituju punya program studi dalam bahasa Inggris. Sebagai informasi, universitas di Taiwan umumnya menggunakan bahasa nasional mereka, yaitu bahasa Cina dalam pengajaran. Namun, kebanyakan universitas juga menyelenggarakan program dalam bahasa selain bahasa Cina untuk kelas internasional kepada mahasiswa asing.
Kalau universitas yang diminati tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, maka lajutkan eksplorasi ke universitas lainnya sampai ditemukan pilihan yang tepat.
Ketiga, jurusan yang dipilih hendaklah sesuai dengan latar belakang pendidikan strata 1 (S1) yang telah dilalui, supaya ilmunya linear. Universitas Taiwan menawarkan beragam tawaran bagi peminat sehingga linearitas kesinambungan keilmuan tetap terjaga. Ini penting, bukan saja untuk kesinambungan pengetahuan, tetapi juga menyangkut nilai kumulatif kepangkatan bagi PNS atau yang berminat jadi PNS.
Keempat, komunikasi hendaknya dibangun sebaik-baiknya dengan pihak universitas, khususnya dengan International Office Administration (OIA) di masing-masing universitas. Komunikasi ini dapat dimulai dengan email. Kebanyakan OIA akan membalas email secara regular.
Kelima, penuhi persyaratan yang diminta dalam proses pelamaran. Dalam melengkapi dokumen, jika diperlukan, peminat dapat berkomunikasi dengan alumni Taiwan atau mahasiswa yang ada di Taiwan untuk memudahkan proses keluarnya Letter of Acceptance (LoA) atau surat diterimanya peminat di universitas yang dituju.
Keenam, berdasarkan LOA dan syarat-syarat lainnya, peminat berkomunikasi dengan LPSDM untuk mendapatkan pendanaan pendidikan yang akan dijalani dengan mengikuti formal test yang diselenggarakan lembaga tersebut. Sebagai informasi, LPSDM selama ini tidak menyediakan beasiswa kepada mahasiswa yang sudah lebih dulu setuju menerima beasiswa dari institusi lain sekalipun itu berjumlah kecil. Oleh karena itu, selama aturan ini belum berubah, mohon benar-benar diperhatikan.
Ketujuh, jika memilih jalur LPSDM, maka sejumlah syarat harus dipenuhi. Misalnya, ikut pelatihan di LPSDM atau institusi yang ditunjuk. Nah, dengan mengikuti tujuh resep ini, mudah-mudahan peminat beasiswa mendapat kesempatan studi di Taiwan dan sukses. 
Tulisan ini juga dimuat di Serambi Indonesia.

Wednesday, August 8, 2012

Cara Berpakaian Ala Taiwanese


Oleh : Hendri Ahmadian, Master Student at Chung Hua University, Hsinchu-Taiwan.

Awal tiba di Taiwan, ada hal yang mengganjal di dalam pikiran saya. Kondisi dan perilaku masyarakat Taiwan yang saya lihat banyak mengikuti budaya Amerika. Kalau kita lihat anak muda di Taiwan, hampir semuanya mengikuti mode dan trend dunia Barat.


Jarang dilihat mereka memperkenalkan budaya atau tradisi China, malah sebaliknya. Contoh pada saat perayaan Ulang Tahun Universitas, para mahasiswa banyak menampilkan budaya barat. Begitu pun di acara hiburan yang sering ditampilkan pada malam minggu di Taman Kota. Kebanyakan acara adalah joged-joged seperti penyanyi rap.

Cara Berpakaian
Saat masih di Banda Aceh, saya berpikir cara berpakaian para perempuan di Taiwan mungkin hampir sama dengan yang di Indonesia. (maaf -Red) Dengan celana pendek dan baju oblong tipis.

Dan pada saat saya sampai disini, tepatnya bulan Oktober 2009 kemarin, pikiran itu memang benar adanya. Malah disini lebih parah dan tidak mengindahkan lagi norma-norma yang lazimnya ada di Banda Aceh. Apalagi bagi orang baru pertama menginjakkan kaki di Taiwan, pemandangan hal yang tidak lazim ini akan sedikit mempengaruhi konsentrasi kita untuk melakukan hal-hal yang positif.

Memasuki awal musim panas (pada saat ini bulan april), pemandangan yang tidak lazim ini akan semakin parah. Mata kita tidak tahu harus memandang kemana lagi. Karena kodisi cuaca akan mempengaruhi cara mereka berpakain. Pada saat musim dingin yang lalu, semuanya masih kelihatan normal (cara mereka berpakaian). Sekarang berbanding terbalik.

Memang budaya dan kondisi di Aceh dan di sini agak jauh berbeda. Disini kita harus banyak mengingat Allah dan jangan lupa untuk memperbanyak ibadah. Karena masyarakat asli disini jarang mempunyai agama. Dengan kekurangan dan keterbatasan yang kami alami disini, harus tetap bersyukur. Dan satu lagi jangan ada waktu luang disia-siakan percuma. Isilah dengan kegiatan posistif.

Sumber Blog Hendri

Monday, July 23, 2012

Berbagi Pengalaman Bagi Mahasiswa Baru Yang Akan Ke Taiwan

Oleh: Subhan Abdul Gani, Master Student at Yuan Ze University, Chongli-Taiwan
Asslamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman sekalian, semoga amal ibadah di bulan ramadhan ini mendapatkan pahala yang berlimpah dari Allah SWT.

Sebagai teman sebangsa dan seiman, saya ingin membagi pengalaman untuk teman-teman yang akan segera mendarat di Taiwan untuk melanjutkan studinya. Dengan adanya informasi ini saya berharap teman-teman baru dapat mempersiapkan kedatangan di Taiwan dengan sebaik-baiknya dan permsalahan awal kedatangan di Taiwan dapat teratasi dengan baik.
  1. Perihal cuaca. Saat ini di Taiwan sedang summer dengan suhu berkisar 27~ 36 C dan kelembaban tinggi . Untuk memantau cuaca dapat menggunakan link sbb:  http://cwb.gov.tw/eng/index.htm .  Persiapkan pakaian yang sesuai untuk cuaca tersebut. Semua informasi berkaitan dengan aktivitas yang harus dihindari dapat dilihat pada link tersebut. 
  2. Perihal kartu selular. Pada saat kedatangan di Taoyuan international airport, disarankan segera membeli kartu Cellular di Airport karena prosesnya lebih mudah ketimbang ketika sudah keluar dari sana. Ini disebabkan untuk menggunakan kartu selular Taiwan mewajibkan registrasi menggunakan dua macam identitas yang berlaku di Taiwan seperti ARC, student ID, passport, dll. Menurut pengalaman beberapa teman yang datang proses membeli kartu di Airport dapat dilakukan hanya dengan menunjukkan passport.
  3. Fasilitas wi-fi. Sungguh menyenangkan, saat ini di hampir setiap stasiun train/bus terdapat Tourist information center dan akses internet gratis. Terdapat jaringan wifi i-Taiwan atau dikenal "I love Taiwan" yang bisa diakses dengan cukup sign-up dan login dengan menggunakan nomor hp selular taiwan, jadi intinya harus punya nomor Taiwan. link: http://itaiwan.gov.tw/en/
  4. Operator telekomunikasi. Disini terdapat 3 operator besar yang dapat dipilih yakni Chunghwa telecom, Taiwan Mobile, dan Far Eastern. Untuk melakukan telekomunikasi murah ke indonesia setiap operator mempunyai akses kode yang diletakkan sebelum kode negara. Misalnya Chunghwa (019), Taiwan mobile (016). Setiap operator telekomunikasi mempunyai keunggulan masing-masing.
  5. Tempat Menukar Uang. Disarankan tidak membawa uang banyak dalam perjalanan. Namun apabila memang membawa dan ingin menukar ke NTD dapat dilakukan di Airport tanah air, seperti airport Polonia atau cengkareng. Selalu cek kurs di:  http://www.xe.com/ucc/ , bisa diakses dengan aplikasi mobile. Perlu diperhatikan bank-bank di Taiwan tidak menerima uang Rupiah, namun tidak juga disarankan membawa uang USD karena selisih kurs akan dikenakan dua kali. Rekomendasi berdasarkan pengalaman adalah di toko-toko indo yang terdapat di seluruh Taiwan seperti EEC index, Jawa petikemas, dan toko indo lainnya. Informasi toko indo dapat ditanyakan kepada Wali ranup di wilayah masing-masing.
  6. Penggunaan kartu ATM indonesia. Ini merupakan alternative yang aman untuk bepergian ke Taiwan. Aktifkan dan tanyakan ke bank teman2 di indonesia cara penggunaan ATM kawan-kawan apabila digunakan di luar negeri. Belajarlah dan hafalkan nomor2 pin dengan baik sebelum berangkat ke Taiwan. Sebagai informasi bank-bank di Taiwan umumnya dapat terkoneksi ke bank indonesia melalui switch operator seperti ATM bersama, ATM link, Cirrus, Visa, dan Mastercard. Apabila kartu bank teman-teman punya salah satu logo tersebut, maka tanyakan dan aktifkan fasilitas tersebut sebelum keberangkatan. 
  7. Bank-bank di Taiwan. Pembukaan rekening bank Taiwan hanya bisa dilakukan setelah mendapatkan ARC. Apabila ingin membuka rekening pilihlah bank yang tidak mengenakan biaya terlalu besar untuk transaksi antar bank dan mempunyai fasilitas internet banking dalam bahasa inggris. Diantara bank yang tidak mengenakan biaya besar antara lain: Taiwan Post Bank, standard Chartered, Mega bank, dll. Dan untuk bank yang mempunyai i-banking dlm bhs inggris yang baik adalah Standard Chartered dan Hua Nan bank, ini menurut pengalaman saya dan beberapa teman. Link : http://www.standardchartered.com.tw/en/index.asp
Demikian sharing pengalaman dari saya, semoga dapat membantu.

Wassalam