Ranup Lampuan

Aceh student Association in Taiwan

Likok Pulo

Memperknalkan marwah bangsa dan budaya adalah kewajiban bagi kami, walau jauh dari negeri "Indatu"

Halal Bihalal Idul Adha 2012

Kebersamaan di hari yanng mulia adalah kebahagian yang tak terkira hidup di negeri orang

Edventure

Merasakan apa yang belum pernah ada di negeri sendiri adalah cita-cita dari setiap individu

Taipei 101

"If you can dream it, you can do it" Bermimpilah setinggi-tingginya.

Wednesday, October 9, 2013

ZAUJATUL AMNA AFGANURISFA : “MAN JADDA WA JADDA”

Belajar di luar negeri, sejujurnya bukan soal gengsi, tapi lebih kepada belajar mencari hikmah yang berserakan di muka bumi. “…bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumuah : 10). Hai Kawan, kenalkan nama saya Zaujatul Amna Afganurisfa (yang kini baru lima bulan menyandang gelar Master of Counseling and Clinical Psychology). Saya berasal dari Aceh, setiap orang percaya setiap nama memiliki doa yang baik bagi anak-anaknya, demikian halnya dengan orang tua saya sehingga saya diberi nama seperti itu yang bearti istri yang setia (wallahualam, itu hanya sebuah doa buat saya kelak).
Mendapatkan Beasiswa keluar negeri adalah impian setiap orang, termasuk saya. Beasiswa merupakan salah cara akses untuk bisa stay dan kuliah di luar negeri, juga travelling ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi. Awalnya nggak pede buat applybeasiswa, karena IPK pas-pasan dan nilai yang paling buruk adalah nilai TOEFL yang hanya 400. Jangankan di luar negeri, Indonesia saja untuk lanjutin master rasanya lewat sebagai mahasiswa cadangan. Tapi karena keinginan yang kuat, akhirnya saya bisa melanjutkan S2 di ASIA UNIVERSITY (AU Taiwan) yang dikenal dengan sebutan “the most beautiful campus in Taiwan” untuk Jurusan Psychology yang pada saat itu menjadi salah satu program international di Taiwan.
Sekarang, Saya akan berbagi pengalaman saya mendapatkan kesempatan beasiswa dan kerja part-time di luar negeri, semoga ini bisa menjadikan motivasi bagi teman-teman untuk mendapatkan kesempatan kuliah di luar negeri. Cerita ini berawal dari satu setengah tahun lalu. Ketika saat itu saya menjadi satu-satunya dari Aceh yang berhasil mendapatkan beasiswa dari pemerintahan Taiwan, “the Department of Social Welfare (DSW) of Taipei City Government” untuk melanjutkan Master of Counseling and Clinical Psychology di Asia University di Taiwan.
Tak mudah bagi saya untuk mendapatkan semua itu. Butuh jerih payah dan usaha yang tak kenal lelah. Mulai dari saya harus membenahi bahasa inggris saya yang sangat amburadul. Saya terpaksa ambil kelas malam. Kerja dari jam 08.00-15.00, dari jam 19.30 – 21.20 saya ikut les bahasa inggris. Semangat yang tak pernah karam dalam diri saya untuk bisa melanjutkan pendidikan. Saya mulai ikutin seleksi lembaga penyediaan beasiswa Aceh, juga ikut dalam seleksi beasiswa online di beberapa negara yang menjadi pilihan saya. Walaupun capek saya tetap istiqomah dngan mimpi-mimpi saya. Setiap perjuangan pasti akan ada rintangan dan ujian, demikian juga dengan saya. Ujian demi ujian saya temui.
Ketika saya dinyatakan lulus dari sebuah lembaga penyediaan beasiswa di salah satu lembaga di Aceh, saya merasa keberhasilan sudah bisa saya genggam. Namun, Allah SWT menguji saya, dikarenakan sesuatu hal nama saya tercoret dari daftar penerima beasiswa itu, dengan penjelasan yang tidak masuk akal menurut saya, saya hanya bisa pasrah dan dengan berat hati saya melepaskan. Mungkin Allah punya rencana lain buat saya. Begitulah kalimat yang keluar dari mulut saya untuk membesarkan hati. Impian melanjutkan kuliah di luar negeri pupus sudah. Namun, rasa pantang menyerah dan terus berusaha tetap saya jalani, demi mencapai cita-cita. Saya yakin bahwa,”siapa yang bersungguh, maka dia akan mendapatkan hasilnya”. Kata-kata ini menjadi motivasi buat saya, untuk mencoba dan terus mencoba, sampai akhirnya saya mengirim berkas aplikasi beasiswa berikutnya, ikut seleksi beasiswa di sebuah jejaring kampus tingkat international lainnya di wilayah Asia.
Setelah tiga bulan berlalu, saya sempat dihinggapi perasaan was-was karena belum ada kabar apapun tentang beasiswa tersebut. Dengan sikap positif, saya terus melanjutkan aktiviatas les saya seperti biasa, tak lupa terus berdoa dan saya serahkan semuanya kepada Allah sambil terus memegang kata-kata “ajaib” yang saya yakini benar: “man jadda wa jadda” (Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan mendapatkan hasilnya).
Ternyata Allah menjawab doa saya. Ketika akhirnya hari Jum’at di bulan Juni, 2011 lalu saya mendapatkan telepon langsung dari Taiwan dan saya dinyatakan sebagai penerima tunggal asal Aceh yang lolos seleksi beasiswa dari pemerintah Taipe untuk meneruskan kuliah Master Psikologi di Taiwan. Rasa tidak percaya menghinggapi ketika saya dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa dari pemerintahan Taiwan. Tak berhenti disitu, ternyata Allah SWT menambahkan kebahagiaan saya, dengan mendapatkan dua beasiswa sekaligus: dari pemerintahan Taiwan, juga dari kampus di Taiwan tempat di mana saya memilih untuk melanjutkan master psikologi.
Akhirnya, saya harus memilih salah satu dari dua beasiswa itu. Rasa ketidakpercayaan diri kembali menyergap saya saat diminta mengurus keperluan seperti passport, visa dan legalisir beberapa dukumen lainnya untuk keberangkatan ke Taiwan pada September 2011. Namun, lagi-lagi rasa ingin melanjutkan sekolah lebih besar dari rasa deg-degan yang menghinggapi jiwa saya saat itu. “Ini pengalaman baru dan ini tugasku untuk menyambut dunia baruku dan Taiwan akan menjadi Aceh di hatiku,” batin saya kemudian untuk menyemagati diri saya sendiri. Setelah 1 tahun kemudian saya berada di tanah formosa (istilah lain dari Negara Taiwan – Republik of Cina) banyak pengalaman yang bisa saya petik dari negara kepulauan yang kecil ini. Arti tentang keramahtamahan taiwanese peopleculture, season yang berbeda, dan dunia pendidikan.
Selama di Taiwan, saya merasa bahwa saya seperti sedang di Aceh. Kekerataban, rasa kekeluargaan yang terjalin di antara mahasiswa internasional maupun lokal, selalu menjadi bagian cerita tersendiri buat saya. Betapa menyenangkan mengenal dan mendalami banyak budaya dari berbagai mancanegara. Rasa syukur tak henti-hentinya saya ucapkan kepada-Nya ketika saya diberi kepercayaan untuk bisa sekolah di luar negeri, mendapatkan kesempatan beasiswa international, bertemu dan belajar dengan orang asing yang belum pernah kenal sebelumnya, mengenal metode baru dalam dunia pendidikan.
Setiap akhir semester, Allah seperti terus menerus memberi kejutan demi kejutan buat saya dalam bentuk angka-angka sempurna di lembar prestasi akademik seorang mahasiswa. Alhamdulillah Rabbku, Engkau menyempurnakan kebahagiannku, menutup semester demi semester mendekati angka sempurna ..I liked it. That’s a gift from God, that I never had before. Kebahagiaan lainnya, di sejumlah agenda kuliah, saya kembali diberi kepercayaan sebagai penghubung sebuah maskapai terkenal Indonesia (kantor pusat di Taipe) dengan pelajar Indonesia yang berada di Taiwan, dalam penjualan tiket khusus mahasiswa Indonesia Taiwan yang sudah berjalan hampir kurang 1 tahun 5 bulan. Dan yang lainnya saya dipercaya untuk magang di International Hospital TaichungRen-Ai Hospital sebagai Indonesia Services selama 5 bulan sebelum saya balik ke Indonesia, juli 2013 lalu”.
Di sisi lain, dengan segala keterbatasan yang saya miliki, saya terus berusaha membenahi bahasa inggris, bertahan demi cita-cita, akhrnya tahun 2013 bulan Mei saya lulus menyandang gelar Master saya dengan masa study 1 tahun, 8 bulan. Tuhan seolah-olah terus menerus menaburi saya dengan kebahagiaan dan kado-kado terindahnya. Something just happens when we believe. “Hidup adalah proses, hidup adalah belajar. Tanpa ada batas umur dan tanpa ada kata-kata menyerah dan putus asa. Ketika “jatuh” berdiri lagi, ketika “kalah” mencoba lagi, dan ketika gagal terus bangkit lagi. Never give up . Teruslah belajar dan belajar, Sampai akhirnya Allah berkata “telah tiba waktunya untuk kembali.” Maka berjuanglah sebanyak-banyaknya, Karena dari sana kita akan banyak belajar dan belajar, menjadi sosok yang lebih baik dan bermanfaat bagi sekitar. Selamat berjuang dan selamat bertebaran di muka bumi, yakinlah “man jadda wajadda”. “Jika apa yang saya dapatkan hari ini adalah sebuah keajaiban, maka keajaiban itu adalah bagian dari kerja keras” (Zaujatul Amna Afganurisfa, 2013)

Saturday, October 5, 2013

Ranup Lampuan Taiwan Menanti Mahasiswa Baru

OLEH MUSLEM DAUD, Ketua Ikatan Mahasiswa Aceh Ranup Lampuan di Taiwan, kandidat doktor pada Educational Measurement and Statistics, NTCU, Taiwan
ADANYA Pameran Pendidikan Tinggi (Higher Education) Taiwan Expo yang diselenggarakan pada 3 Oktober 2013 kemarin di Gedung Ali Hasjmy IAIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh, merupakan kesempatan baik bagi para calon mahasiswa/i untuk melanjutkan studi strata 1 (S1) dan pascasarjana S2 (magister), atau bahkan S3 (doktoral/PhD) ke Taiwan.
Pameran tersebut, seperti dilaksanakan sudah dua kali di Banda Aceh, bukan hanya memberikan informasi kepada pengunjung, tetapi juga memungkinkan para peminat melamar program studi di universitas-universitas terkemuka yang ikut pameran dimaksud.
Di samping itu, dengan ikut sertanya lembaga penyedia beasiswa maka peluang belajar gratis ke Taiwan semakin terbuka lebar. Sungguh ini merupakan kesempatan bagus dan tidak banyak negara yang melakukan penjaringan mahasiswa langsung seperti ini. Oleh karena itu, kerja sama Lembaga Peningkatan Sumber Daya Manusia (LPSDM) Aceh dan Elite Study in Taiwan (ESIT) serta Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry ini perlu diberi apresiasi setinggi-tingginya.
Sebagai sharing pengalaman, saya mengunjungi Pameran Pendidikan Taiwan sekitar Oktober 2011 yang waktu itu diadakan di Gedung AAC Dayan Dawood Universitas Syiah Kuala, juga atas kerja sama LPSDM Aceh dengan ESIT. Pada waktu itu saya langsung tertarik untuk melamar program studi di universitas tempat saya belajar kini. Dengan beberapa dokumen dasar yang saya bawa, pihak universitas tersebut pun dapat melihat keseriusan saya dan tertarik untuk meng-interview serta memproses lebih lanjut lamaran saya. Dan pada akhirnya saya diterima menjadi salah seorang mahasiswa di universitas mereka.
Kesempatan ini juga digunakan oleh teman-teman lain dan hasilnya pada tahun 2012 ada 32 mahasiswa Aceh yang berbarengan dengan saya berangkat ke Taiwan untuk menempuh pendidikan di berbagai program studi, baik untuk jenjang S2 maupun S3.
Keseriusan Pemerintah Aceh dan Departemen Pendidikan Taiwan yang diwakili oleh ESIT untuk menjaring putra-putri Aceh menjadi calon mahasiswa ke Taiwan, telah memberikan inspirasi bagi Ikatan Mahasiswa Aceh Ranup Lampuan di Taiwan yang didukung oleh para alumni untuk mengadakan beberapa sosialisasi pendidikan Taiwan beberapa minggu lalu di Aceh (pertengahan Agustus sampai pertengahan September 2013). Beberapa lokasi kegiatannya adalah Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh (16 Agustus); Pusat Bahasa Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (18 Agustus); Pusat Studi China IAIN Ar-Raniry (5 September); FKIP Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh (7 September); Perguruan Tinggi Al-Hilal Sigli, dan Badan Kepegawaian Kabupaten Pidie (9 September).
Di samping itu, dengan dukungan penuh salah satu radio swasta, pada tanggal 28 Agustus, Ranup Lampuan Taiwan telah pula melakukan live talkshow untuk menyebarkan informasi pendidikan Taiwan serta beasiswa-beasiswa yang tersedia. Apa yang mahasiswa dan alumni lakukan selama ini merupakan kegiatan sukarela yang didanai secara mandiri oleh rekan-rekan yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Adapun bahan-bahan sosialisasi didukung penuh oleh ESIT dan Office of International Affairs (OIA) National Chiao Tung University dan OIA National Taichung University of Education, Taiwan. Terima kasih setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah menyukseskan kegiatan sosial tersebut.
Besar harapan kami, apa yang dilakukan mahasiswa dan alumni pada masa liburan tersebut akan bersinergi dan memberikan kontribusi positif bagi terjaringnya calon-calon mahasiswa baru yang akan melanjutkan studi ke berbagai universitas di berbagai kota di Taiwan.
Sekadar informasi, Ikatan Mahasiswa Aceh Ranup Lampuan di Taiwan yang didirikan tahun 2006/2007, sekarang memiliki anggota lebih dari 100 mahasiswa yang tersebar di tujuh kota: Taipei, Hualien, Keelung, Zhongly, Hsinchu, Taichung, dan Tainan. Jadi, di mana pun calon mahasiswa diterima, dipastikan akan ada saudara-saudari kita yang menunggu, menjembatani kepentingan sosial budaya, dan membantu mahasiswa baru asal Aceh beradaptasi di Taiwan. Jadi, gunakanlah kesempatan emas ini sebaik-baiknya dan kami menunggu Anda di Negeri Formosa. 
Tulisan ini juga dipublis di Serambi Indonesia

Tuesday, October 1, 2013

Gambar Mengerikan pada Rokok Taiwan

OLEH FAISAL ANWAR, penerima beasiswa dari LPSDM Aceh, mahasiswa program Magister di National Chiayi University- Taiwan
TAIWAN adalah negeri yang memiliki perhatian besar terhadap kesehatan. Ini dapat dilihat dari keseriusan pemerintahnya dalam “menjinakkan” para perokok.
Rokok, sama seperti halnya di Indonesia, juga diperjualbelikan di Taiwan. Namun demikian, tidak semua orang diperbolehkan membeli rokok secara bebas di sini. Orang-orang yang diperbolehkan membeli dan menikmati rokok hanyalah yang sudah dewasa atau berusia 18 tahun ke atas. Para kasir di setiap swalayan akan melihat dan menanyakan apakah si pembeli sudah berusia 18 tahun ke atas atau belum. Mereka tidak hanya memikirkan keuntungan belaka dengan “mengobral” rokok kepada semua orang. 
Rokok di Taiwan tidak ada yang dijual secara eceran, semua rokok dijual per bungkus dan hanya tersedia di swalayan-swalayan. Sebungkus rokok di Taiwan sangatlah mahal dibandingkan dengan sebungkus rokok di negeri kita. Per bungkusnya berkisar 70-80 NT, sekitar Rp 23.800-Rp 27.700 (tergantung dari merek rokok yang dibeli) dengan isi 16 batang.
Untuk menumbuhkan kesadaran para perokok tentang arti penting kesehatan, Pemerintah Taiwan memasang gambar-gambar penyakit yang disebabkan oleh rokok di setiap bungkus rokok. Mulai dari paru-paru hitam, gusi hitam, gigi yang kuning dan berlubang hingga gambar janin yang rusak disebabkan asap rokok.
Langkah pemerintah tidak hanya sampai di situ. Pemerintah juga mensterilkan tempat-tempat umum dari pecandu rokok. Seperti bandara, stasiun, terminal, bus, kafe, dan lain-lain. Pemerintah Taiwan  mengatur sanksi tegas berupa denda sebesar 10.000 NT (Rp 3.400.000) bagi siapa saja yang tetap melanggar.
Bagi para mahasiswa perokok, merokok di Taiwan menjadi “penjara”. Mereka hanya diperbolehkan merokok di taman sekitar kampus dan tidak boleh berkeliaran sambil menenteng rokok. CCTV di setiap pojok asrama siap mengintai gerak-gerik mereka dan alarm asap di setiap kamar siap berbunyi ketika mendeteksi asap. Sanksi yang sama juga berlaku bagi mahasiswa apabila mereka melanggar.
Keseriusan dan ketegasan Pemerintah Taiwan sangat membuahkan hasil. Kita tidak akan melihat perokok di tempat-tempat umum dan kampus. Udara yang kita hirup pun segar dan bebas dari asap berbau tembakau yang menyembunyikan banyak penyakit.
Tentu ini berbeda jauh jika dibandingkan dengan negeri kita, khususnya Aceh yang menjadi “surga” bagi para pecinta si kulit putih sepanjang 9 cm dan “nereka” bagi pecinta kesehatan. 
Di nanggroe kita tercinta akan sangat mudah kita temukan orang merokok di tempat-tempat umum seperti di bus, labi-labi, warung kopi, terminal bahkan mushalla. Ironisnya si perokok terkadang cuek terhadap ibu hamil, wanita, atau anak-anak yang berada di sekeliling mereka yang juga menjadi “perokok” tanpa filter.
Kita harus akui pemerintah kita masih lemah dalam mengawasi rokok dan pencintanya dan lemah pula kesadaran masyarakat kita akan arti kesehatan meski di setiap bungkus rokok sudah dicantumkan peringatan bahwa merokok itu dapat mengganggu kesehatan.
Oleh karena itu, kesadaran akan kesehatan harus kita tumbuhkan dari diri kita sendiri dan sedini mungkin sebelum penyakit menggerogoti paru-paru yang sudah Allah berikan kepada kita. Marilah kita hormati orang-orang yang tidak merokok dengan tidak merokok di sekeliling mereka. Pepatah Arab mengatakan, “Ahsihhatu taajun `alaa ru`usi ashihhaa`, laa yarahaa illa l-mardha” (Kesehatan itu adalah mahkota di atas kepala orang-orang yang sehat, tidak ada yang bisa melihat mahkota itu kecuali mereka yang sakit). 

Tuesday, September 10, 2013

Untungnya Mengantongi Kartu Halal di Taiwan

OLEH SRI AGUSTINA, penerima beasiswa dari LPSDM Aceh, mahasiswi Program Magister di National Taiwan Ocean University, melaporkan dari Taiwan
MENJADI minoritas di tengah mayoritas orang yang beda agama bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Itulah yang saya rasakan ketika pertama kali menginjakkan kaki di Taiwan.
Saya awalnya tak terbiasa menjawab pertanyaan yang kadangkala hanya saya tebak maksudnya dari cara warga Taiwan menunjuk-nunjuk jilbab saya (berhubung kemampuan bahasa Mandarin saya yang masih sangat minim) tentang mengapa saya berpakaian tertutup, meski pada musim panas.
Pada akhirnya, saya juga harus membiasakan diri untuk tersenyum ketika beberapa orang tua di dalam bus atau kereta api menatap “bagai tiada akhir” dan tanpa pertanyaan atau malah melakukan “bisik-bisik tetangga” terhadap pakaian muslimah yang saya kenakan.
Sekarang sudah setahun saya berada di Negeri Formosa ini untuk melanjutkan studi di National Taiwan Ocean University (NTOU). Orang-orang sekitar tempat saya tinggal sepertinya sudah mulai terbiasa dengan keberadaan saya. Namun, bagi saya, setahun di sini masih belum cukup untuk membiasakan diri dengan lingkungan, terlebih dengan makanan.
Minimnya jumlah populasi muslim di sini membuat saya kesulitan mencari warung makan atau makanan berlabel halal. Alhasil, memasak sendiri menjadi alternatif terakhir. Tapi terkadang karena kesibukan di laboratorium, mencari makanan siap saji di luar menjadi keharusan. Inilah jurus andalan saya saat mencari makanan di luar, yakni memperlihatkan kartu Halal Formmit!
Kartu Halal Formmit adalah lembaran kecil berukuran 5x7 cm yang diprint dan diperbanyak oleh Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan (Formmit), kemudian dibagikan kepada mahasiswa muslim di Taiwan. Kartu ini menjadi sangat ampuh terlebih untuk kami yang bahasa Mandarinnya masih seperti anak balita yang baru belajar membaca. Kartu ini dicetak dalam karakter Mandarin yang kira-kira artinya seperti ini:
“Halo, saya seorang muslim. Oleh karena itu:
- saya tidak boleh makan daging babi dan makanan yang mengandung unsur babi,
- saya juga tidak boleh makan darah dan makanan yang mengandung darah,
- saya tidak mengonsumsi alkohol dan makanan yang mengandung alkohol,
- saya juga tidak boleh makan daging (ayam, bebek, sapi, kambing) yang disembelih tidak dengan cara Islam,
- jika Anda menggunakan peralatan masak yang sebelumnya digunakan untuk memasak daging babi, tolong peralatan tersebut dibersihkan lebih dulu sebelum memasak makanan yang saya pesan. Terima kasih.”
Biasanya, percakapan dengan penjual di kafe atau restoran saya awali dengan “permisi” atau “mohon maaf, bahasa Cina saya tidak bagus”, kemudian saya tunjukkan kartu Formmit tersebut. Selebihnya, merekalah yang membantu saya untuk mendapatkan makanan yang sesuai status saya sebagai muslimah.
Selain mengandalkan kartu halal dari Formmit, warung Indo adalah alternatif lain untuk mendapatkan makanan halal dan sesuai dengan lidah Indonesia. Warung Indo adalah sebutan para warga Indonesia di Taiwan untuk toko yang dikelola oleh warga negara Indonesia yang sudah lama menetap di Taiwan. Toko ini juga menyediakan makanan-makanan khas Indonesia, mulai dari mi instan, bumbu-bumbu instan (seperti bumbu nasi goreng, bumbu soto, bumbu rendang, bumbu ayam goreng, dan lain-lain), snack, bumbu dapur (seperti ketumbar, kemiri, terasi, dan daun jeruk kering) hingga nasi dan lauk pauk.
Tapi tidak semua warung Indo terjamin kehalalannya. Walaupun tidak menjual babi, namun mereka menjual lauk berupa daging sapi atau ayam yang bahan mentahnya dibeli dari pasar sekitar serta tidak ada jaminan disembelih secara islami. Tapi setidaknya, di warung Indo ini, kami bisa berkomunikasi dengan baik tanpa perlu menunjukkan kartu halal kepada penjualnya.
Minimnya makanan halal di Taiwan tidak lantas membuat saya urung semangat atau bahkan menderita kelaparan. Dengan kartu halal Formmit yang selalu saya bawa ke mana-mana dan warung Indo yang juga menyediakan lauk seafood, telur atau lauk lain yang lebih jelas kehalalannya, saya tetap semangat untuk menyelesaikan studi di negara yang pulaunya berbentuk daun ini.
[email penulis: tinameutuah@yahoo.co.id]


Sumber:http://aceh.tribunnews.com/2013/09/08/untungnya-mengantongi-kartu-halal-di-taiwan

Tuesday, August 27, 2013

Mahasiswa Aceh di Taiwan sosialisasikan sistem pendidikan Taiwan di Unsyiah

ORGANISASI mahasiswa Aceh yang sedang menempuh pendidikan S1-S3 di Taiwan Ranub Lampuan, kemarin menggelar sosialisasi pendidikan Taiwan di Pusat Bahasa Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Senin 19 Agustus 2013.

Acara tersebut disambut hangat oleh para lulusan baru Unsyiah. Ketua Ranub Lampuan, Muslem Daud, dalam rilis yang diterima ATJEHPOSTcom menyampaikan, kegiatan yang dibuat secara sukarela tersebut untuk menyebarkan informasi mengenai sistem pendidikan di Taiwan, beasiswa, serta gambaran kehidupan di Taiwan.
“Acara ini dikemas dengan doorprize, slide presentasi, tanya jawab dan hadiah souvenir dari Taiwan. Kegiatan ini dihadiri oleh dua puluhan peserta dari berbagai jurusan di lingkungan Universitas Syiah Kuala,” ujarnya.

Sosialisasi ini katanya juga bagian dari kegiatan masa liburan, di samping penggalangan dana untuk korban gempa Gayo yang telah dibuat beberapa waktu lalu. Sebelumnya kegiatan serupa sudah dibuat di Universitas Malikussaleh Lhokseumawe.

“Dalam minggu-minggu ke depan teman-teman akan sosialisasikan ke Pemda Pidie, IAIN Ar Raniry, Serambi Mekah dan Pemda Sabang,” katanya.

Salah seorang peserta, Reka, menyampaikan jika kegiatan tersebut sangat bermanfaat karena selain memberikan informasi pendidikan, juga mendapat wawasan dari berbagai sisi mengenai proses belajar mengajar di Taiwan. Baik dari mereka yang sedang belajar di sana maupun sudah lulus.

“Ada di antara kami yang dulunya berfikir, Taiwan itu dekat Thailand, ternyata Taiwan itu adalah Republik Cina atau Cina Taipe. Taiwan yang  jaraknya hingga enam jam perjalanan (udara) dari Aceh bertetangga dengan Republik Rakyat Cina yang selama ini kita kenal,” katanya.

Sementara itu koordinator kegiatan, Edward Iswardy, mengatakan kegiatan ini adalah Mini Expo Taiwan di Unsyiah yang dimotori oleh rekan-rekan mahasiswa dan alumni dari berbagai universitas di Taiwan.

Ia berharap para peminat yang ingin melanjutkan studi ke Taiwan bisa mendapat informasi awal. Ia juga menyampaikan terimakasih kepada rekan-rekannya yang telah membantu terselenggaranya kegiatan tersebut. Khususnya kepada Direktut Pusat Bahasa Unsyiah.
Semua materi dalam kegiatan tersebut bersumber dari Elite Study in Taiwan, Kementerian Pendidikan Taiwan dan beberapa universitas seperti National Chung Hua University dan National Taichung University of Education.

Sumber : Atjehpost.com

Santunnya Pengamen di Taiwan

OLEH KHAIRUNNISA SYALADIN, mahasiswi Farmasi UGM Yogyakarta, peserta PPSDMS Nurul Fikri VI, Kaohsiung-Taiwan
HAL menarik tentang Taiwan selama saya berada di sini, khususnya di Kaohsiung, adalah saya tidak menemukan pengemis ataupun anak jalanan di jalanan.
Saat saya bertanya kepada seorang teman, dia jawab bahwa Taiwan memiliki tingkat ekonomi yang cukup mapan, sehingga pemerintahnya mampu memilihara anak jalanan dan orang miskin dengan baik.
Bila kita bandingkan dengan Indonesia, di setiap perempatan jalanan pastilah banyak pengemis, gelandangan, dan anak jalanan yang meminta-minta. Semoga ke depannya Indonesia akan bebas dari pengemis dan anak jalanan.
Jika pengemis dan anak jalanan tidak ada di Taiwan, tapi yang namanya pengamen tetap ada. Tapi mereka memiliki seni yang berbeda dalam mengamen dibanding pengamen di negeri kita. Mereka tidak akan mengganggu saat kita sedang makan di sebuah tempat makan, misalnya.
Menurut saya, seni mereka mengamen sangat unik. Mereka tidak perlu berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya. Saya sudah dua kali bertemu pengamen selama di Taiwan ini. Pertama, di pelataran Museum Confucius. Di sini, seorang wanita yang berdandan dengan pakaian tradisional Taiwan bernyanyi sepanjang hari ditemani seorang bapak tua yang memainkan musik. Sepertinya mereka membawakan lagu tradisional Taiwan. Nah, siapa yang lewat di depan mereka dan mau memberikan sumbangan tinggal menaruh uangnya di atas sapu tangan yang mereka gelar di tanah. Sungguh cara mengamen yang sangat santun.
Kedua, pada suatu malam saat saya pulang dari pasar malam, saya temukan seorang gadis cantik mengamen di perempatan jalan. Caranya sama, dia bernyanyi menggunakan mikrofo dan speaker di pinggir jalan. Lagu yang dibawakan adalah lagu pop dan dia menggunakan baju dan dandanan yang cantik. Trotoar perempatan jalan itu bagaikan panggung baginya.
Banyak hal yang menarik dan bisa dipelajari dari Taiwan. Semoga perjalanan saya beberapa bulan di sini akan memberikan pengalaman terbaik untuk saya. Semoga pula ke depannya hal-hal baik yang ada di Taiwan ini bisa saya bantu terapkan di Indonesia, khususnya di Aceh. 
Tulisan ini juga dipublish di Serambi Indonesia.

Sunday, August 25, 2013

Berburu Makanan Halal di Pulau Formosa

OLEH KHAIRUNNISA SYALADIN, mahasiswi Farmasi UGM Yogyakarta, peserta PPSDMS Nurul Fikri VI. Kaohsiung-Taiwan
DULU, Taiwan bernama Pulau Formosa. Julukan tersebut diberikan oleh penjajah asal Portugis yang menemukan pulau tersebut. Formosa berarti pulau yang indah.
Sejak 5 Juli 2013 saya berada di Pulau Formosa ini. Sebagai mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM) asal Aceh saya sedang mengikuti pertukaran mahasiswa di Taiwan, tepatnya di Kaohsiung Medical University, salah satu universitas terbaik di Taiwan.  Kaohsiung merupakan kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipei. Kota Kaohsiung berada di selatan Taiwan. Jika kita naik kereta biasanya menghabiskan waktu sekitar delapan jam dari Taipei. Namun, bisa juga menempuh perjalanan ke kota ini dengan high speed rail, hanya menghabiskan waktu sekitar dua jam. High speed rail merupakan kereta cepat di Taiwan, namun harga tiketnya bisa dua kali lipat dibandingkan kereta biasa. Saya mahasiswa, jadinya saya pilih kereta biasa. Harga tiket keretanya 520 NT$ atau sekitar Rp 150.000. Dari stasiun besar Taipei ke stasiun besar Kaohsiung saya berangkat seorang diri. Awalnya saya canggung, karena cuma saya yang berjilbab dan itu menjadi pusat perhatian orang Taiwan. Lagian, selama perjalanan saya hanya diam, karena semua orang berbahasa Cina.
Saat malam tiba, akhirnya saya tiba di Kaohsiung. Selama tiga minggu saya hidup di kota ini. Kegiatan yang saya lakukan adalah meneliti antivirus hepatitis C menggunakan tumbuhan Taiwan, Panax natoginseng. Selain melakukan penelitian di pagi hingga siang hari, saya pun menghabiskan waktu dengan jalan-jalan bersama teman saya. Teman-teman saya tersebut ada yang berasal dari daerah setempat dan ada berasal dari luar negeri juga.
Menjalani hidup sebagai seorang muslim di sini tidaklah mudah. Sulit sekali mendapatkan makanan halal di Kota Kaohsiung ini. Apalagi di kota ini, penduduk muslim adalah minoritas. Alhamdulillah, saat di Indonesia saya berinisiatif membawa rice cooker dan hal tersebut sangat membantu saya dalam menjalanankan ibadah puasa. Lebih dari itu, rice cooker saya ini dapat menghindari saya dari makanan yang tidak halal. Saya sudah coba mencari restoran halal, namun semua restoran menjual daging babi. Hal lain yang menakutkan adalah walaupun tak ada daging babi dalam makanan tersebut, namun terkadang mereka menggunakan minyak babi saat memasaknya.
Baru seminggu saya di sini, ternyata jilbab saya menarik perhatian seseorang. Jilbab adalah identitas seorang muslim. Nah, saat saya berjalan di pelataran kampus, seorang kulit hitam menyapa saya dengan mengucapkan “assalamu’alaikum”. Setelah berkenalan, tenyata dia orang muslim yang berasal dari Gambia. Saat saya tanya di mana dia mencari makanan halal, ternyata dia tak tahu dan setiap hari dia memasak sendiri. Saat Ramadhan lalu, dua hari saya berbuka puasa dengan masakannya, sup okra khas Afrika. Alhamdulillah, saya bisa berbuka puasa dengan makanan halal.
Hal lain yang menyulitkan saya sebagai seorang muslim di kota ini adalah tak adanya masjid. Hampir setengah kota ini pernah saya lalui, namun tidak saya temukan masjid dan tidak pernah terdengar kumandang azan. Beberapa hari berikutnya, tepatnya hari Jumat saya bertemu lagi dengan teman muslim Afrika saya. Ternyata saat itu dia akan shalat Jumat di salah satu masjid di kota ini. Dia berjanji suatu saat akan mengajak saya ke masjid tersebut. Nah, untuk mencapai masjid tersebut dapat ditempuh dengan MRT (Mass Rapid Transit).
MRT merupakan tranportasi publik Taiwan, kereta bawah tanah yang dapat menjangkau setiap tempat yang ada di Kaohsiung dan kota-kota lain di Taiwan. MRT ini sangat diminati setiap warga Taiwan, baik dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Tak heran jika di kota terbesar kedua Taiwan ini kita tak pernah terjebak macet. Sistem pelayanannya sangat eksklusif dan berteknologi tinggi. Di Kota Kaohsiung sendiri terdapat 50 titik pemberhentian MRT. Jadi, dengan MRT tersebut kita dapat dengan mudah menjangkau segala tempat di Kaohsiung. Masyarakat di sini biasanya memiliki MRT card.
Dengan kartu tersebut mereka bisa langsung naik MRT. Pelajar yang memiliki kartu ini mendapat diskon. Turis atau pelancong harus membeli token lebih dulu. Token tersebut sebagai pengganti kartu MRT, digunakan untuk membuka gerbang saat masuk dan ke luar dari stasiun. Harga token untuk satu tujuan 20 NT$ atau sekitar Rp 7.000. Di dalam MRT penumpang dilarang makan, minum, dan merokok. Yang melanggar didenda 1.500 NT$ atau Rp 500.000. Begitulah cara orang Taiwan menjaga disiplin. Semua mereka patuh aturan. MRT selalu bersih dan bebas dari asap rokok. Ini patut dicontoh oleh masyarakat Aceh. Mari belajar menjaga fasilitas umum. 
Tulisan ini juga di-publish di Serambi Indonesia