Sunday, July 8, 2012

Beradaptasi dengan mandarin


Oleh Ibnu Sahidhir, Master student at National Taiwan Ocean University, Keelung-Taiwan.

Sudah hampir setahun Saya berada di tengah-tengah etnis Cina Taiwan, tepatnya di Kota Keelung. Untuk mengobati kangen kampung, Saya ingin berbagi. Saya betul-betul kangen karena memang tidak pernah pulang di liburan semester.

Setahun berlalu namun detaknya masih terasa. Ada gembira saat menonton lucunya Kung Fu Panda 2 dan Yes Man yang saya putar di kabin pesawat. Ada emosi gembira saat mendarat di Tao Yuan International Airport. Ada bahagia saat melihat senyum ramah staf-staf ESIT (Elite Study in Taiwan, sebuah lembaga di bawah Kementerian Pendidikan Taiwan yang membantu mengurus beasiswa). Ada rasa haru saat bertemu rekan-rekan Indonesia. Ada juga yang meneteskan air mata.

Mengenal Mandarin

Pada suatu kesempatan, Saya mengunjungi toko buku terdekat dari tempat Saya tinggal. Banyak buku dilabel permanen sekitar Rp. 25ribu. Mungkin subsidi pemerintah. Namun sayang, walaupun murah dibanding di Indonesia semuanya berbahasa mandarin. Buku yang berbahasa inggris harganya lebih dari tiga kali harga buku terjemahannya. Topiknya pun terbatas pada novel dan art.

Belajar mandarin memang betul-betul beda. Betul-betul sulit. Tidak sama dengan belajar hanacaraka jawa yang merupakan alphabet, kata-kata bisa disusun dengan mudah. Beruntung Saya masuk kelas international, jadi tak perlu baca tulis china.

Sebelum di Keelung, Saya belajar Mandarin di Kota Chung Li tujuannya sekedar mempermudah sosialisasi. Selama bulan pertama kami menjadi siswa pemula di kelas mandarin. Kursus diadakan di Chung Yuan Christian University, universitas yang indah dan rindang. Pengajar Kami, semua perempuan dan masih muda (30-an) , berpakaian sangat santai dan penyabar, membuat semua murid terkesan.

Belajar mandarin cukup menantang. Perlu berpikir beberapa kali. Tulisan China disusun dari gambar yang termodifikasi bertahun-tahun menjadi seperti sekarang ini -disebut karakter. Satu konsep berpikir satu gambar. Belajar mandarin berarti menyusun kembali dunia pengalaman kita dalam gambar, dalam garis-garis yang tak terbaca kecuali setelah cara bacanya dibuat tulisan latin (Pin Yin). Namun demikian, tata bahasa mandarin tidak rumit, mudah dipelajari.
Menghapalkan satu konsep berarti menghapalkan cara menulis garis-garis. Kemudian menghapalkan cara bacanya –termasuk nada- tulisan dan cara baca sering tak berpola. Sama-sama ‘di’ tetapi beda tulisan dan beda arti. Dari latin, kata diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Akhirnya ide dicerna dalam bahasa Indonesia. Kerja yang berat dan sangat membutuhkan konsentrasi penuh. Dengan demikian menuangkan ide dalam bahasa tulis menjadi lebih lama.

生日 = Sheng ri = tone pertama pada sheng = birthday = hari lahir


Solusi untuk masalah ini percakapan. Namun sayang, banyaknya kata yang hampir berhomofon membuat ini juga sulit. Banyak kata-kata yang tidak tepat di lidah Indonesia seperti ‘peng’ dibaca antara e dan o, membedakan zhi, chi, che, qi, shi, she, shei. Ditambah 4 nada yang berbeda.

Ide sering direpresentasikan dalam satu suku kata atau dua, sehingga mendengarkan lebih sulit karena ide disampaikan dengan lebih cepat. Ditambah lagi dengan kata berhomonim dan berhomofon yang sangat banyak dan hanya bisa dibedakan dari tulisan aslinya.

Kalimat jitu
Bergaul dengan mahasiswa internasional ada juga buruknya. Kawan-kawan saya kebanyakan dari Amerika Latin, Asia dan Afrika. Teman sekamar yang sekaligus teman satu lab orang Malaysia. Bahasa inggris sedikit berkembang, mandarin yang dipelajari sebulan pun banyak terlupakan. Sampai sekarang percakapan saya seputar itu-itu juga, tidak bisa dipakai untuk pertarungan nyata. Beda dengan seorang teman yang kawan-kawan labnya orang Taiwan, setahun saja mandarinnya sudah bisa buat pidato di parlemen. Namun walau sulit, saya tetap punya kalimat-kalimat ampuh untuk menyelesaikan pembicaraan.

Suatu hari, kolega professor telepon apakah prof ada. Jikalau prof tak ada, Saya tinggal bilang “lao shi bu zai (guru gak ada).” Kalau dia tidak menutup telepon, kalimat itu tinggal saya ulang sampai dia diam. Kalau ada tamu ke lab saat prof ada di kelas, Saya tinggal bilang, “Lao shi sang ke (guru mengajar).” Saya ulang juga yang ini kalau tamu masih juga tidak angkat kaki. Kalau kewalahan saya ganti jurus “wo bu shuo zhong wen, wo shuo ying wen (Saya tidak bercakap mandarin, saya bisanya inggris).” Nah kalo dia bisa inggris, selamatlah saya, kalau tidak dia harus mengalah pergi. Kadang saya sok-sokan meladeni cakap mandarin dengan tamu. Karena aksen china Saya memang bagus, dia langsung cas cis cus cakap mandarin. Maka jurus terakhir yang paling ampuh adalah “Dui bu qi, wo bu zhi dao (maaf, saya tidak tahu).” Atau kadang juga “Ding bu dong (tidak paham).”

Yang tidak kalah manjur, “please, wo de zhong wen bu hao (Mandarinku jelek).” Kalau dia paham maksud Saya dan tidak nyerocos lagi, Saya akhiri dengan “xie-xie nin (terima kasih).”

Chinglish (Chinese English)

Lidah orang china juga beda kalau bercakap inggris. Sebulan pertama Saya harus berfokus betul-betul untuk menerka ucapan inggris profesor. Sering minta pengulangan kata, membuat Saya segan. Walaupun konteks kalimat sering membantu, kebingungan sering terjadi juga. Orang china kesulitan berucap ‘r’. Suatu kali seorang prof berucap ‘foling’ saya terka pasti ‘fouling’ tapi setelah konfirmasi ternyata foreign.
Mereka sulit juga berucap ‘d’. Saat yang lain, prof berkata ’sitokin’ dan terkaan saya pasti ‘cytokines’ tapi meleset, yang dia maksud adalah ‘pseudogenes’.

Tiga bulan pertama adalah yang tersulit namun juga yang terindah. Saat-saat berikutnya bergaul menjadi lebih mudah tapi kerja riset kadang menutupi keindahan itu.

Source:Ibnu Sahidhir

0 comments:

Post a Comment