Thursday, June 28, 2012

Hari Pertama di Negeri “Formosa”

Oleh: Hendri Ahmadian. Master student at Chung Hua University, Hsinchu-Taiwan.


Bingung. Itulah situasi yang kami hadapi saat menginjakkan kaki di Taiwan. Kami (rombongan penerima beasiswa pemda NAD) berkesempatan untuk melanjutkan studi di Taiwan – dengan segala pengorbanan dan kerja keras – akhirnya semua urusan bisa kami selesaikan dengan tepat waktu.

Sebenarnya kami diharapkan, hadir di Taiwan akhir bulan September 2009. Tapi kenyataan berkata lain. Berbagai proses administrasi harus kami selesaikan, sehingga kami tidak bisa datang di akhir bulan september.
Dimulai dari pengurusan surat kesehatan, dilanjutkan dengan pengurusan visa – yang terkesan banyak sekali prosedurnya – ditambah lagi kurang pedulinya Panitia Beasiswa terhadap kami. Akibatnya kami harus mengurus sendiri. Memang butuh pengorbanan untuk sebuah perjuangan.

Alhamdulillah kami tiba di Taiwan sekitar tanggal 10 Oktober 2009. Kami beranggotakan 10 orang, 3 orang mengambil Doktor dan 7 orang mengambil program Master.

Kembali ke hari pertama di Taiwan. Masalah pertama yang kami hadapi adalah bahasa. Kami agak kewalahan berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Karena masyarakat Taiwan menggunakan bahasa Mandarin sebagai bahasa Nasional baru disusul dengan bahasa Inggris. Pengetahuan dasar tentang bahasa Mandarin sangat penting, sebagai modal untuk berkomunikasi dengan masyarakat sekitar.

Masalah kedua adalah makanan. Susah kita untuk menjumpai makanan yang cocok (halal). Penduduk taiwan banyak mengkonsumsi daging babi dan sebagian produk makanan diolah dengan daging tersebut.  Kami harus hati-hati dan teliti. Tidak sembarangan untuk makan. Dibalik itu semua kami harus tetap semangat, biar bagaimana pun kami telah tiba di Taiwan. Mau nggak mau, kami harus bisa mengatasinya..Semoga…Amin

=~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~=~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~=~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~=

Kagum. Itulah kesan di hari kedua kami di kota Hsinchu, Taiwan. Kami melihat betapa disiplinnya mereka terhadap waktu. Benar-benar pas waktunya. Sebagai contoh jadwal Bus berangkat. Jadwal yang ditempel di papan informasi, pas dengan waktu berangkat. Situasi ini berbeda jauh dengan kondisi di Banda Aceh.

Kedua, kota Hsinchu begitu teratur dan bersih. Kesadaran masyarakat terhadap kebersihan begitu tinggi. Secara umum sistem transportasi di Taiwan sudah bagus. Ada bus dan kereta api. Jadwalnya bisa dilihat di stasiun atau di halaman web. Dan lagi-lagi kondisi ini berbeda jauh dengan Banda Aceh.

Sekiranya kondisi ini ada di Banda Aceh, mungkin Banda Aceh akan menjadi daerah maju seperti Taiwan. Semoga.

Sumber: Hendri

1 comments:

  1. Saya ingin berbagi cerita kepada anda bahwa saya IBU HERAWATI seorang TKW dari malaysia dan secara tidak sengaja saya buka internet dan saya melihat komentar IBU DARNA yg dari singapur tentan AKI SYHE MAULANA yg telah membantu dia menjadi sukses dan akhirnya saya juga mencoba menghubungi beliau dan alhamdulillah beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor Togel toto 4D dr hasil ritual/ghaib dan alhamdulillah itu betul-betul terbukti tembus dan menang RM.230.000 Ringgit ,kini saya kembali indon membeli rumah dan kereta walaupun sy Cuma pembantu rumah tanggah di selangor malaysia, sy sangat berterimakasih kepada AKI SYHE MAULANA dan tidak lupa mengucap syukur kepada ALLAH karna melalui AKI MAULANA saya juga sudah bisa sesukses ini. Jadi kawan2 yg dalam kesusahan jg pernah putus asah, kalau sudah waktunya tuhan pasti kasi jalan asal anda mau berusaha, ini adalah kisah nyata dari seorang TKW, AKI MAULANA adalah guru spiritual terkenal di indonesia. jika anda ingin seperti saya kunjungi situs/website KLIK DISINI RITUAL PESUGIHAN DUNIA GHAIB


    ReplyDelete