Ranup Lampuan

Aceh student Association in Taiwan

Likok Pulo

Memperknalkan marwah bangsa dan budaya adalah kewajiban bagi kami, walau jauh dari negeri "Indatu"

Halal Bihalal Idul Adha 2012

Kebersamaan di hari yanng mulia adalah kebahagian yang tak terkira hidup di negeri orang

Edventure

Merasakan apa yang belum pernah ada di negeri sendiri adalah cita-cita dari setiap individu

Taipei 101

"If you can dream it, you can do it" Bermimpilah setinggi-tingginya.

Saturday, June 30, 2012

Senyum Idul Adha 1431 H di Taiwan


Oleh: Hendri Ahmadian Master student at Chung Hua University 
5 November 2010, besoknya shalat Idul Adha serentak di seluruh Taiwan, saya beserta beberapa teman bergerak menuju ke Keelung. Perjalanan dimulai dengan Bus dari kampus menuju kota Hsinchu selama 25 menit. Setiba di Hsinchu, perjalanan dilanjutkan dengan kereta api langsung menuju Keelung. Perjalanan yang melelahkan itu memakan waktu lebih kurang dua jam. Total perjalanan - dari kampus CHU menuju keelung- yang kami tempuh lebih kurang 2 jam 45 menit, dimulai dari pukul 4 sore hingga 7.30 malam.

Setelah 2 jam perjalanan, alhamdulillah kami tiba di stasiun Kereta Api Keelung. Istirahat bebeapa menit sekalian menunggu teman yang menjemput. Malam itu cuaca di Keelung hujan dan dingin.

Teman kami yang kuliah di Keelung tersebut kemudian mengajak kami langsung menuju restoran seafood dekat dengan kampus meraka- NTOU (National Taiwan Ocean University) - bersama-sama dengan beberapa teman lain. Dengan menu "hot spot" serba ikan kami melahap makanan dengan ditambah minuman teh dingin menambah semarak malam itu di Keelung.

Selesai makan dan berbincang-bincang sejenak, kami langsung bergerak ke Mushalla Buruh Migran Indonesia (BMI) di dok kapal Keelung. Setelah melewati lorong dan jalan sempit akhirnya kami tiba.

Saat kami tiba, teman-teman BMI telah menunggu kami dan mempersilahkan untuk duduk dan sekalian bersilaturahmi sejenak. Setelah berkenalan dan penyampaian kata-kata sambutan, acara dilanjutkan dengan nasehat dan renungan Idul Adha dari salah seorang teman BMI. Di akhir uraian nasehat, kami sama-sama menggemakan takbir. Gemuruh ombak, dinginnya angin malam menemani suasana takbiran di Dok kapal pelabuhan Keelung. Suasana semarak kami rasakan walau belum bisa berlebaran di kampung halaman.
Gema takbir menggema menambah semangat kami untuk terus belajar di pulau Taiwan.

Setelah acara takbir selesai, alhamdulillah kami menikmati hidangan ala kadarnya untuk penutup malam yang begitu dingin ini.

16 November 2010
Lebih kurang pukul 5 pagi kami , kami melaksanakan shalat shubuh secara berjamaah. Selanjutnya kami segera berkemas untuk bersiap melaksanakan shalat Idul Adha di Mesjid Besar Taipei.
Tepat pukul 6.30 kami berangkat menuju Taipei. Perjalanan dari keelung ke Mesjid Besar Taipei memakan waktu 1 jam perjalanan. Alhamdulillah dengan mata yang masih mengantuk, kami tiba di Mesjid Besar Taipei.

Kami langsung mengambil wudhu dan bergegas duduk di shaf yang masih kosong. Tepat pukul 8.30, Shalat Idul Adha di mulai dan dilanjutkan dengan Khutbah Idul Adha. Walaupun saya sendiri belum faham dengan isi dari khutbah Idul Adha karena penyampaiannya di sampaikan dalam Bahasa Arab tidak mengurangi kekhusyukan ibadah Idul Adha kali ini.

Senyum terpancar dari muka jamaah shalat Idul Adha, setelah shalat, mereka langsung bersalaman dan saling meminta maaf atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat.

Tak terkecuali kami, canda dan senyum hadir walau tanpa ditemani keluarga tercinta dan hidangan Idul Adha.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari keikhlasan Nabi Ibrahim dalam melaksanakan perintah Allah SWT. Amin

Sumber: Hendri

Qing Ming dan Saya


Oleh: Nur Hayati, Master Student of Chemical Engineering at National Cheng Kung University (NCKU), Tainan-Taiwan
Judul yang aneh memang. Tapi bukan berarti saya dan Qing Ming itu bersaudara. Pasalnya, saya tidak pernah mengenal sapa itu Qing Ming. Hanya saja akhir-akhir ini sering menjadi pembicaraan teman-teman disini. Nah, yang menarik disini sebenarnya adalah efek dari Qing Ming itu sendiri, tepatnya merekan menyebutnya Qing Ming Festival, dan akan bertepatan dengan 4 April mendatang.
Festival Qing Ming adalah festival yang populer dirayakan di Cina, Taiwan dan Hong Kong. Meskipun begitu banyak masyarakat Tionghoa tinggal di Indonesia, Singapura maupun Malaysia, namun tidak ada hari libur resmi disana. Qing Ming festival atau 清明节(qīng míng jié) atau di Indonesia lebih dikenal sebagai Ceng Beng adalah ritual tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan berziarah ke kuburan. Festival tradisional Tionghoa ini jatuh pada hari ke 104 setelah titik balik matahari pada musim dingin (atau hari ke 15 dari hari persamaan panjang siang dan malam pada musim semi), pada umumnya jatuh pada tanggal 5 April, dan setiap tahun kabisat, Qing Ming jatuh pada tanggal 4 April. Secara astronomi, ini juga merupakan terminologi matahari. Dalam terminologi Matahari, Festival Qīng Míng adalah pada hari pertama dari 5 terminologi Matahari, yang juga dinamai Qīngmíng. Nama yang menandakan waktu untuk orang pergi keluar dan menikmati hijaunya musim semi dan juga ditujukan kepada orang-orang untuk berangkat ke kuburan.
Well, saya rasa cukuplah penjelasan apa itu Qing Ming, jujur saya ga tau-tau amat sebenarnya. Itupun tadi sebelum pulang ke dorm,saya menyempatkan diri ber-interview dengan local student di lab saya, tepatnya teman disamping meja saya. Awalnya dia udah jelasin panjang lebar secara oral, tapi akhir-akhirnya saya ga tau bentuk tulisan pinyin nya, sampai-sampai terpaksa dia menuliskannya untuk saya. Hehehe :D
Qing Ming yang sering disebut-sebut sebagai Spring break, memanglah sangat ditunggu-tunggu kedatangaanya. Secara di Taiwan sendiri, hari libur nasional sangatlah minim kalo dibandingkan dengan Indonesia yang dikit-dikit tanggal merah. Apalagi, libur wintersudah berakhir hampir dua bulan yang lalu. Dan sebagai mahasiswa, tentulah akan menanti libur-libur yang lain. Kalo saya pribadi sih, hanya berharap libur summer yang kononnya hampir tiga bulan itu sudah dinanti-nantikan.
Terserah deh mau libur berapa hari atau berapa bulan! Tiba-tiba statement aneh ini muncul di kepala saya. Bagaimana tidak, libur ga libur jelas kurang sekali pengaruhnya ke saya. Kegiatan belajar-mengajar di kampus memang diliburkan setiap bertepatan dengan libur nasional. So, balek lagi ke Qing Ming yang akan jatuh pada hari Rabu, 4 April mendatang, dan jelas-jelas di kelender tanggalnya berwarna merah, tapi berhubung Harpitnas ( hari kejepit nasional -gaya Indonenesia- ), maka liburlah hari Senen dan Selasanya. Lagi-lagi long weekend bagi yang merayakannya (-nya refer ke weekend). Jelas libur panjang dong, secara Sabtu dan Minggu lagi-lagi tidak ada kegiatan belajar mengajar secara resmi di kampus. Artinya, mulai besok (Sabtu) sampai Rabu depan terhitung libur, belum lagi masih ada yang menganggap Kamis dan Jumat depan sebagai Harpitnas, maka liburlah sampai dengan hari Minggu depan. Aseeeekkk…. Libur Euyyy….
Jadi? Kenapa saya ga senang ya? Jawabannya adalah Tugas, Lab dan Midterm. Jujur, jauh-jauh hari saya dan teman-teman udah sempat mem-planning-kan saat Spring break untuk mengeksplor kota tua ini (mana da, padahal mau ke laut aja -red). Tapi apa lacur, saya akan disibukkan dengan hal-hal di atas. Sedikit analisa yang saya lakukan demi berlibur, kalau tugas, jelas bisa saya kerjakan di sela-sela waktu makan atau mengurangi sedikit jatah tidur, kalau persiapan midterm, bolehlah saya belajar extra jauh hari sebelumnya (ga yakin dan jarang sekali terjadi) atau sistem kebut semalam (gaya Indonesia banget), nah yang teraakhir acem? Lab maksud saya, mana mungkin saya bawa-bawa? Dan akhirnya setelah melakukan analisa sebab-akibat, makan ketemulah root cause kenapa saya ga bisa berlibur (lho? mulai ga nyambung). Tapiii… Masih ada tapi ni, saya harus jujur, selain itu juga ada faktor X yang tidak bisa saya sebutkan disini (sssstttt… kurang dana x___x).
Sore tadi, tiba-tiba mengembanglah senyum saya! Dan dapat ajakan untuk jalan-jalan. Mungkin Sabtu dan Minggu bolehlah saya melibur-liburkan diri, berhubungan masih tergolong “anak baru”, jadi yang belum terlalu urgent “masih” boleh ditinggal (mulai make decision sendiri nih). Maka, saya memutuskan untuk tetap berlibur menjelang Qing Ming dengan dana seadanya, minimal tahan lapar lah (ini sangat tidak mungkin terjadi).
Have a nice weekend…
Sumber:Nur Hayati

Friday, June 29, 2012

Catatan kecil dari Tanah Formosa-Taiwan


OlehZaujatul Amna Afganurisfa, Master of Psychology at Asia University, Taichung-Taiwan

Setiap Tahun, Fall atau Spring semester, Program scholarship (Bachelor, Master and PhD program) selalu membuka peluang untuk menerima mahasiswa baru di Universitas belahan dunia manapun. Taiwan salah satunya. Mungkin, Taiwan masih kurang dikenal dibandingkan Amerika Serikat,  Australia atau Inggris. Namun, Taiwan dalam beberapa tahun terakhir gencar berkampanye sebagai salah satu negeri yang memiliki standar pendidikan terbaik di Asia.
Taiwan  juga termasuk Negara yang banyak diminati oleh berbagai Negara, Taiwan memiliki  ribuan mahasiswa international  dari berbagai manca Negara, diantaranya  Jepang, Amerika, Turkey, Indonesia, Malaysia, India, Mongolia, Vietnam, filipine, Thailand, Singapure, Cina, St. Vincent, Uganda, Burkina faso, dan sebagainya.  Menurut data statistik yang dikeluarkan oleh badan penelitian Institut Informasi Sains di Amerika Serikat (AS), Taiwan pada tahun 2008 menduduki peringkat ke 17 dalam sistem penilaian ilmu teknik dan peringkat ke 15 pada ilmu sosial. Sedangkan pada bidang teknik, Taiwan memperoleh peringkat ke 9 dunia menurut data dari Elseiver Engineering Information, sebuah bank data teknik terbesar di dunia.

Sebagai seorang putri kelahiran tanah rencong (Aceh-Indonesia) saya memiliki kebanggaan tersendiri menjadi bagian dari Negara Taiwan, tepatnya bulan juni  di hari jum’at 2011, jam 11 siang, saya di telpon dan dinyatakan sebagai salah satu penerima beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Taiwan, periode fall semester, menempuh pendidikan Master Of Psychology di Asia University Taiwan. yang berkesempatan menerima beaiswa the Department of Social Welfare (DSW) of Taipei City Government. Tahun ini saya dan 9 teman lainnya berkesempatan mengikuti pendidikan master di Asia University, dengan jurusan yang berbeda-beda. Tanggal 7 September 2011, saya  meninggalkan Aceh –Indonesia.
Taiwan Negara baru buat saya, Negara yang sangat jauh berbeda dengan aceh tentunya, dalam segala bidang, kebudayaan, agama yang mayoritas atheis, dan ras yang berbeda pula. Ini pengalaman baru dan ini tugasku untuk menyambut dunia baru ku, batinku kemudian. Butuh perjuangan bagi orang baru seperti saya, sedikitnya mungkin saya termasuk dalam golongan shock culture, akan tetapi ini juga yang harus saya benahi, saya harus bisa berbaur karena ini demi cita-cita dan juga harapan seorang anak mgkin juga akan menjadi kado terindah bagi my beloved parents (lates). Saya pun mulai memulainya dengan semangat dan penuh keyakinan bahwa Taiwan akan menjadi aceh dihatiku, mencoba mencintai dan menyukainya walaupun susahnya^^

Dari segi makanan terutama untuk kaum muslim, akan sedikit terkendala, Karena bahan utama di Negara ini adalah Babi, akan tetapi hal ini tidak lantas putus asa, karena di Negara Taiwan juga tersedia banyak makanan vegetarian, yang cukup sehat untuk dikonsumsi. Kalau mengingat makan vegetarian jadi kangen Aceh tercinta ^^.Tapi tenang, tak semua kehidupan jauh dari negeri sendiri itu sulit. Kita bahkan bisa memilih, live the life you love or love the life you live. Kalau kita memilih opsi kedua, maka kita akan bisa melihat bahwa sebenarnya Allah memberi nikmat yang jauh lebih banyak bagi hidup kita. Kabar baiknya adalah karena penampilan saya yang “berbeda”, saya jadi sering menjadi pusat perhatian, karena mereka ingin kenal dengan saya dan ingin tahu kenapa saya selalu menutup kepala saya dengan kain. Itu membuat saya dikelilingi banyak teman baru dan menjadi sosok yang mudah dikenali.  (ahhahaah, agak narsis juga ya^^) .

Sejauh ini Kesehatan dan keamanan kami sebagai mahasiswa juga sangat terjaga karena kami mendapat jaminan asuransi  kesehatan, National health insurance (NHI). Kekerabatan, rasa kekeluargaan yang baik, diantara mahasiswa International menjadi bagian cerita tersendiri buat saya, dan teman lainnya yang sedang menempuh pendidikan di Taiwan, mengenal dan mendalami banyak budaya dari berbagai manca Negara. Sampai hari ini saya merasa amat sangat beruntung, salah satu dari putri Aceh (Indonesia) bisa menjadi  bagian dari mahasiswa international di Taiwan. Tanah Formosa memberikan banyak pengalaman buat saya pribadi, selain berbahasa inggris, sisi lain saya bisa belajar bahasa mandarin yang susahnya luar biasa^_^.
Setelah 7 bulan lebih berada di Tanah Formosa (istilah lain dari Negara Taiwan – Republik of Cina) banyak pengalaman yang bisa saya petik dari Negara kepulauan yang kecil ini, arti tentang  keramahtamahan Taiwanese people, culture dan pendidikan. Sebagai mahasiswa baru, kami di bekali dengan sejumlah kegiatan positif, diantarannya pengenalan budaya, kesenian dan tempat bersejarah di Taiwan yang dirangkum dengan trip bersama mahasiswa international lainnya, tujuannya agar kami bisa mengenal dan mengetahui sisi lain dari Negara Taiwan selain dunia pendidikan.

Di dunia kampus, saya berkenalan dengan professor yang sangat baik dan luar biasa ramahnya, tak ayal saya dan teman kelas saya sering di ajak lunch atau dinner bareng dengannya, jika dilihat sekilas beliau bukan hanya guru saya, melainkan teman akrab buat saya, bersahaja dan sangat bersahabat. Berdiskusi, berbagi pengalaman, belajar bareng, belajar terapi, bercerita tentang Taiwan, bercerita tentang ilmu psikologi, membuat saya terlena dengan ceritanya. Ini jadi pengalaman yang ingin saya amalkan, bila saya jadi “professor” kelak (cita-cita tetap perlu, walupun hanya akan jadi sebuah mimpi ^_^)

Pengalaman terbaru lainnya, tepatnya 1 Desember 2011, rasanya Taiwan tidak seperti biasanya, adem hangat, mulai berubah dengan cuaca yang dingin hingga belasan dinginnya-_-''. Tidak seperti biasanya, mulai bulan itu hingga februari ini seluruh manusia yg ada di Taiwan, termasuk mahasiswa, staff dan dosen mulai menggunakan jaket andalannya, musim dingin (winter dimulai), ini juga akan menjadi pengalaman pertama buat saya untuk beradaptasi dengan musim yang baru saya temui, akan ada cerita seru dan indah di balik musim dingin di tanah Formosa.
Rasanya syukur tak henti-hentinya saya ucapkan padaNYA, diberi kepercayaan untuk bisa sekolah di laur negeri, mendapatkan kesempatan beasiswa, bertemu dan belajar dengan orang asing yang belum pernah kenal sebelumnya, mengenal metode baru dalam dunia pendidikan. Dan di akhir semsetr pertama ini, aku mendapatkan kado indah lainnya dariMU dlm bntuk angka dilembar prestasiku.Alhamdulillah rabbku, Engkau menyempurnakan kebahagiannku, menutup semester pertama ini., di musim dingin ini. I liked it. That’s a gift from GOD, that I never had before.

Semua cerita dan apa yang aku dapatkan mungkin bagi sebagian mereka adalah hal biasa dan mudah, tpi bagi saya sangatlah berharga. Kerja keras dan berdoa adalah bagain yang terpenting yang menghias ceritaku. Belum lagi menangis dan bahagia jadi bagian penting tersendiri dalam perjalananku, dimana saya susah ntuk mngambil keputusan akan beasiswa ini, dimana ada rintangan kecil lainnya, yang harus aku ambil sendiri kesimpulannya, dan yang paling terberat disaat aku butuh sosok orang yang mendukung kepergianku tak ada disisiku (almh. Ayah dan mamak), semua butuh pengorbanan demi cita-cita untuk kuliah master dan belajar diluar negeri, begitu pikirku.
 Belajar di luar negeri, sejujurnya bukan soal gengsi tapi lebih kepada belajar mencari hikmah yang berserakan di muka bumi. “…bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumuah : 10)
 “Maka berjuang lah sebanyak-banyaknya, tak peduli biar dibilang bodoh atau keras kepala. Lakukan banyak langkah biar pun itu gagal. Karena dari sana kita akan banyak belajar dan belajar, menjadi sosok yang lebih baik dan bermanfaat bagi sekitar. Selamat berjuang dan selamat bertebaran di muka bumi.
***Banyak ilmu yang bisa saya share kepada teman-teman setelah saya pulang ke aceh nanti, khususnya di bidang psikologi, serasa tak sabar ingin pulang dan mari berbagi pengalaman.
*bagi teman-teman semuanya, saya yakin kalian juga punya cerita indah, itulah coretan kecil ceritaku^^. Teman, sahabat, ayuuuuh  kobarkan semangat dan tunjukkan prestasimu pada dunia, kalian pasti bisa, jangan berhenti bermimpi dan wujudkan mimpimu mnjdi nyata^_^

 Taiwan, February 4, 2012.


Sumber: Amna

Dua Putra Aceh di Pentas Ilmiah Dunia

Oleh Khairul Rijal Djakfar, Anggota Asia University Indonesia Student Association.

NAMA Aceh kembali harum dan bergaung di pentas ilmiah dunia. Dua mahasiswa Aceh kandidat doktor di dua negara berbeda, yaitu Malaysia dan Taiwan, tampil sebagai Ketua Panitia pada acara Konferensi Internasional Tahunan di kedua negara tersebut. 

Sosok yang pertama adalah Muhammad Dayyan. Mantan Ketua Umum HMI Cabang Banda Aceh ini menjadi pelaksana kegiatan Aceh Development International Conference (ADIC) yang diselenggarakan di International Islamic University Malaysia (IIUM) Kuala Lumpur, Malaysia, 26-28 Maret 2012. 

Seperti dalam website adic2012.yolasite.com, acara yang di inisiasi oleh pelajar Aceh di Malaysia ini bertujuan untuk mengumpulkan berbagai macam pengetahuan dan wawasan dari multidisiplin ilmu dalam lingkup internasional sebagai kontribusi pembangunan Aceh di masa depan. Model acaranya dengan mengundang peserta untuk mengirimkan papers yang nantinya akan dinilai oleh para pakar lintas perguruan tinggi dari Indonesia dan Malaysia. 

Topik papers sangat luas dan tidak membatasi pada kajian akademik saja, mulai dari konsep ajaran Islam tentang kehidupan, planologi, pertanian, perikanan, pertambangan, sampai ke bidang ekonomi, politik, wanita, kesehatan, mitigasi bencana, wisata dan seni. 

Konferensi ini direncanakan akan dirangkaikan dengan Sidang Tahunan pertama Ikatan Pelajar Aceh Internasional dan Lokakarya Masyarakat Sipil Aceh dan Pekerja LSM Aceh.      

Sosok berikutnya adalah Agus Putra A Samad. Ia pakar muda kelautan dan perikanan Aceh yang profilnya pernah diliput PPI Taiwan dalam bentuk dokumenter di http://youtu.be/FgCegoI4Ijs. PNS asal Pemko Langsa ini dipercayakan oleh Forum Mahasiswa Muslim Indonesia Taiwan (Formmit) sebagai chief of organizing committee pada even The Third Annual Indonesian Scholars Conference in Taiwan.

Acara yang berlokasi di Chung Hua University, Kota Hsinchu, Taiwan akan dilaksanakan pada 17-19 Maret 2012. Tema yang diangkat dalam konferensi ketiga kalinya ini seperti dapat dilihat dalam website ic3t.org/aisct2012 adalah Akselerasi dan Pengembangan Riset Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Permintaan Global: Peningkatan Sinergi Berkelanjutan di Akademik, Industri dan Pemerintahan. 

Kita harapkan semoga sukses untuk Muhammad Dayyan dan Agus Putra AS dan kiprahnya menjadi prestasi yang luar biasa serta mampu mengharumkan nama Aceh dan Indonesia pada umumnya. Interaksi mereka dengan masyarakat dunia mengenalkan kembali negara kita sebagai pusat pendidikan dan sekaligus membuktikan bahwa kemampuan riset dan penguasaan teknologi bisa sejajar dengan bangsa lain.***
Sumber:Serambi Indonesia

Tabligh Akbar Bersama Ustad Arifin Ilham di Taiwan


Oleh: Hendri Ahmadian. Master student at Chung Hua University 

Ahad, 28 Novemebr 2010 sekitar ribuan para Buruh Muslim Indonesia (BMI) berbaur bersama mahasiswa memadati halaman Taipei Municipal Yingqiao, Junior High School.

Acaara yang digagas oleh Majelis Taklim dan Yasin Taipei (MTYT) ini berjalan sukses berkat dukungan dari semua pihak termasuk Kantor Dagang Ekonomi Indonesia di Taipei (KDEI) serta organisasi dibawah Keluarga Muslim Indonesia di Taiwan dan para sponsor.

Acara dimulai sejak pagi hari berlangsung meriah dimulai penampilan beberapa group Band dan Qasidah dari organisasi dibawah KMITW dan tak lupa pula group Nasyid dan Angklung dari organisasi FORMMIT mampu menghibur para hadirin hingga menjelang siang hari.

Setelah berhenti  sejenak untuk ibadah shalat dan makan, sekitar pukul 1 siang, acara kembali dilanjutkan.
Lantunan ayat suci Al quran mengawali acara Tabligh akbar dan zikir ini. Setelah itu berturut-berturut kata sambutan dari ketua panitia,  ketua Keluarga Muslim Indonesia di Taiwan KMITW dan kepala Kantor Dagang Ekonomi Indonesia di Taipei (KDEI).


Dan acara inti pun dimulai penyampaian yaitu tausiah oleh Ustdz Arifin Ilham. Dalam kesempatan ini, ustadz Arifin Ilham mungupas keutamaan zikir dan mengajak jammah untuk lebih banyak berzikir dan beristighfar kepada Allah SWT. Karena dengan banyak berzikir jiwa dan raga ini menjadi tentram dan kita selau dekat dengan Allah SWT. Beliau berpesan agar umat muslim di Taiwan senantiasa memegang 3 kunci yaitu, menjaga aqidah, tunjukkan akhlak mulia dan menghormati perbedaan, karena hidayah itu adalah hak mutlak Allah.

Dalam cuaca yang sejuk, Ustadz Arifin Ilham juga menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan Taubat. Setiap hamba Allah dimuka bumi ini yang telah melakukan dosa terbuka baginya untuk bertaubat. Allah membuka pintu taubat selebar-lebarnya. Beliau juga bercerita tentang sejarah beberapa artis dan pelaku kejahatan yang telah bertaubat.

Beliau juga menyinggung tentang musibah yang sering menimpa neegeri Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa muibah itu datang karena banyak Pemimpin Indonesia tidak mengajak rakyatnya untuk lebih banyak bertaubat. Kemudian, banyak dari kita yang nilai ketauhidan telah berkurang. Masih ada dari kita yang percaya dengan tahayul. Beliau memberikan contoh ada dari kita yang percaya bahwa gunung merapi itu punya Mbah Marijan. Padahal gunung dan apapaun yang ada dimuka bumi ini adalah milik Allah SWT.
Diakhri kesempatan, Ustadz Arifin Ilham mengingatkan kepada para jamaah untuk selalu beristighfar serta berzikir dimanapun dan kapan pun kita berada.

Sumber:Hendri

Thursday, June 28, 2012

Tabligh Akbar bersama Opick AA Hadi dan Che Che Kirani di kota Chiayi, Taiwan



Oleh: Hendri Ahmadian. Master student at Chung Hua University, 

Setelah sukses dengan tabligh akbar Ustadz Jefri Al Bukhari, 16 Mei 2010 di kota Jhongli Taiwan, Keluarga Muslim Indonesia Taiwan (KMIT) bekerjasama dengan Majelis Taklim Yasin Chiayi (MTYCIT) kembali menyelenggarakan Tabligh Akbar dan konser musik bersama Opick, AA Hadi dan Che Che Kirani, pada 18 Juli 2010 di kota Chiayi Taiwan.

Acara dimulai dengan kompetisi konser musik yang diikuti oleh organisasi muslim Indonesia yang ada di Taiwan yang berlangsung hingga siang hari. Setelah istirahat dan makan, acara dilanjutkan dengan kata-kata sambutan oleh kepala Kantor Dagang Ekonomi Indonesia di Taipei (KDEI) yang baru Bapak Herman Sembiring. Dalam kesempatan tersebut Bapak Herman Sembiring mengajak para Buruh Muslim Indonesia (BMI) untuk aktif melaporkan setiap kejadian dan permasalahan seputar tenaga kerja ke KDEI.

Selanjutnya penjelasan program Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU) oleh duta PKPU Che Che Kirani dan perwakilan PKPU Denny Kurniawan. Dalam penjelasannya mereka mengajak kepada para BMI untuk tidak lupa membayar zakat tehadap penghasilan yang dimiliki, karena dengan membyar zakat berarti penghasilan yang kita peroleh akan semakin berkah.

Setelah panjang lebar mengurai program PKPU, acara dinantikan pun tiba, mendengarkan lantunan suara Opick. Dalam kesempatan ini, Opick membawakan 7 buah lagu terbaiknya. Sekali-kali Opick mengajak penonton untuk bernyayi bersama-sama.

Acara terakhir adalah siraman rohani oleh AA Hadi dan Che Che Kirani sekaligus ditutup dengan doa bersama. Acara ini didukung sepenuhnya oleh Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU).

Sumber:Hendri

Formosa dan Diorama Sang Pemimpi



Oleh : Feizia Huslina, Studied Environmental and Ecological Studies at National Dong Hua University, Hualien-Taiwan

Aku adalah seseorang yang ingin menggapai mimpi untuk melanjutkan pendidikan. Aku pun mencari informasi beasiswa dengan giat karena sangat tidak mungkin untuk memakai biaya sendiri. Setelah menunggu beberapa waktu, aku berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Taiwan. Aku sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa ternyata Taiwan adalah takdirku, masa depan yang telah dihadiahkan Tuhan untukku. Dengan memanjatkan segenap do’a, aku bulatkan tekadku untuk memulai perjalanan itu.

Malam itu adalah tonggak awal perjuanganku di bumi Formosa, Taiwan. Tepat pada awal Ramadhan 2011, aku dan teman-temanku tiba di sebuah kota yang bernama Zhongli, sebuah kota dengan beberapa toko perbelanjaan yang berjajar di sepanjang jalan. Suasana malam dengan kilauan cahaya lampu yang menghiasi kota itu, mengingatkanku pada cerita-cerita mafia Hongkong yang sering kulihat di televisi. Beberapa mobil dan motor masih gencar melewati jalanan itu untuk meramaikan malam. Para pejalan kaki juga masih lincah untuk menapaki trotoar penyeberangan. Hingga akhirnya aku tiba di depan sebuah hotel. Dari penampakan luarnya, aku membayangkan tempat itu pasti dihuni oleh muda-mudi yang sedang menikmati malam dengan sukacita dan ditemani suasana temaram lampu warna-warni. Segera kusingkirkan semua pikiran aneh yang menggelayut di kepalaku. Penyelenggara beasiswa pasti memberikan fasilitas yang aman dan cocok bagi kami. Aku hanya merasa lelah yang teramat sangat dan ingin segera merasakan empuknya kasur yang hangat.

Tepat dini hari di lantai 14 hotel itu, aku dan teman-teman dikejutkan oleh suara ketukan pintu. Petugas hotel mengisyaratkan bahwa makanan sahur telah tersedia. Sesaat aku tertegun, karena setahuku, sulit sekali untuk mendapatkan makanan halal di Taiwan karena kebanyakan berasal dari bahan dasar daging babi. Aku terkejut, karena makanan itu tampak asing sekali bagiku. Aku melihat kue dadar seperti martabak beserta saus berwarna cokelat kehitam-hitaman dan roti berbentuk lonjong memanjang seperti cakue, kue jajanan khas Bogor. Aku bahkan tak berselera melihatnya dan rasa laparku perlahan hilang seperti ditelan bumi. Aku menanyakan kepadanya, apakah makanan tersebut mengandung sesuatu yang terkait dengan babi. Dan dia langsung meyakinkanku bahwa makanan tersebut aman untuk dikonsumsi. Namun, aku masih merasa ragu dan takut. Di sisi lain, aku tidak mempunyai bekal makanan lain untuk sahur. Bismillah, akhirnya aku memakan sedikit makanan itu seraya memohon ampun pada-Nya jikalau aku salah. Duhai Rabbul Izzati, inilah cobaan pertamaku, aku harus kuat.

Keesokan paginya, sebuah bis mengantarkan aku dan teman-teman menuju tempat pelatihan bahasa mandarin. Cuaca dingin walaupun setahuku saat itu adalah musim panas serta rasa lelah yang masih melanda tidak menyurutkan langkah kami untuk segera memulai hari di bumi Formosa. Chung Yuan Christian University adalah tempat dimana aku dan teman-teman akan menjalani pelatihan selama satu bulan. Aku patut bersyukur dapat bertemu dengan guru-guru yang sangat ramah, pintar dan sabar. Bahasa mandarin yang mulanya kuanggap sulit, perlahan begitu indahnya bermain di alam pikiranku. Sistem penyampaian materi yang disajikan sangat memudahkan kami untuk cepat memahaminya.

Sebaliknya, kami juga merasakan ketidaknyamanan ketika berada disana. Aku terusik dengan keadaan toilet yang tidak menyediakan air dan hanya mengandalkan segulung tissue yang bertengger di dinding. Bisa dibayangkan, setiap harinya aku harus membawa sebotol air mineral yang kosong sebagai wadah untuk diisi air. Bau tak sedap juga kerap menusuk hidungku. Dan malangnya, keadaan seluruh toilet di Taiwan memang seperti itu. Masyarakat setempat memang tidak terbiasa menggunakan air untuk bersuci. Maha suci Engkau ya Allah yang telah memberikanku selaksa nikmat Islam sehingga aku tahu bagaimana caranya menyucikan diri.

Hari pun kian bergulir semakin cepat. Bulan Ramadhan yang pada awalnya terasa begitu hampa, perlahan kurasakan lebih bermakna. Apalagi ketika melaksanakan shalat tarawih berjamaah di hotel yang kami tempati. Alhamdulillah, ruang lobi hotel yang sempit dapat kami sulap menjadi tempat yang nyaman untuk melaksanakan sholat. Keharuan pun menyeruak di dalam kalbu, ketika aku mendengar dan meresapi setiap ayat-ayat Qur’an yang dilantunkan. Aku pun menyadari bahwa rasa ukhuwah itu begitu mengalir hebat di ruang batinku ketika berada jauh di negeri orang.

Mencari menu berbuka puasa juga menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Alhamdulillah, setelah bertanya kesana kemari, akhirnya kami menemukan sebuah warung Indonesia yang menjual makanan halal. Menunya bermacam-macam seperti nasi putih atau kuning dengan opor ayam, sayur nangka dan sambal teri tempe. Kesulitan mencari makanan ketika sahur akhirnya tergantikan oleh lezatnya menu berbuka puasa. Aku percaya bahwa dibalik kesusahan, pasti ada kemudahan.

Di kota itu, terdapat sebuah masjid bernama Longgang yang memberikan sejuta kenangan. Masjid yang biasa didatangi oleh orang-orang muslim Cina, Arab, Pakistan dan mahasiswa-mahasiswa khususnya dari Indonesia selalu memberikan aura ketentraman yang luar biasa bagiku. Suara azan yang syahdu serta ucapan-ucapan salam yang sudah lama tidak kudengar begitu lembut memasuki relung jiwaku. Berbagai jenis makanan berbuka puasa dari Taiwan dan Indonesia dapat kunikmati disana. Bahagia sekali rasanya dapat menikmatinya sembari melihat anak-anak muslim cina bermata sipit saling berlari dan berkejaran di halaman masjid. Pemandangan yang membuatku semakin merasakan indahnya ukhuwah di negeri yang konon memiliki minoritas kaum muslim. Kebiasaan di masjid tersebut yang mengharuskan setiap orang untuk membawa pulang makanan yang berlebih dan melarang keras untuk menyisakannya juga membuatku merenung. Sebuah hal yang jarang aku temui di negaraku.

Ramadhan pun berakhir di penghujung Agustus 2011 dan hari raya Idul Fitri akan tiba. Aku mengiba, karena tidak bisa berada di tengah keluarga. Namun, kerinduan itu terobati karena aku dapat melaksanakan sholat Idul Fitri pada sebuah masjid di pusat kota Taichung yang dapat ditempuh selama 3 jam dari kota Zhongli, dimana kami bernaung saat itu. Masjid besar Taichung adalah salah satu dari enam masjid yang terdapat di Taiwan. Pagi hari yang cerah, sedikit mendung dan diiringi gerimis-gerimis kecil menemani kami dan jamaah lain menghadap-Nya. Iringan dzikir menyebut asma-Nya menyatukan hati kami dalam keharuan bersama.

Sesaat setelahnya, kami tiba di rumah seorang teman muslim dan disuguhi dengan lezatnya menu lebaran seperti lontong, opor ayam, beserta kue-kue yang memenuhi meja makan. Sejurus kemudian, kami langsung menikmatinya dengan sangat lahap layaknya orang yang kekurangan gizi dan sudah lama tidak memakan masakan lezat.

Pada waktu itu, kami juga mengunjungi beberapa tempat menarik seperti Asia University dan beberapa tempat bersejarah lainnya. Bahkan aku beserta teman-teman melanjutkan perjalanan menuju Taipei dan mengitari tempat-tempat wisata seperti Taipei 101, masjid besar Taipei dan tempat-tempat perbelanjaan. Dan hanya ungkapan syukur dan bahagia yang terbersit di benakku saat itu.

Tidak terasa satu bulan terlewati sudah dan pelatihan mandarin telah berakhir. Aku beserta teman-teman harus berpisah menuju universitas masing-masing. Rasa haru dan kehilangan yang amat mendalam menyelimuti diri pada detik-detik perpisahan itu. Dan perasaan itu tak terbendung lagi ketika wajah-wajah dan kebersamaan itu hilang bersama jejak langkah menuju ke tempat yang baru.

Kota penjelajahanku selanjutnya adalah Hualien yang terletak di sebelah timur Taiwan dan dapat ditempuh selama 4 jam dari ibukota Taiwan yaitu Taipei. Disana, aku akan menjalani aktivitas perkuliahanku di sebuah daerah bernama Shoufeng. Aku sempat terhenyak karena ternyata kampusku luas sekali. Ketika memasuki gerbang pintu masuk, beberapa jenis pohon seperti pinus dan cemara berdiri dengan gagahnya menyambut kedatanganku. Aura kesejukan dari gunung merasuk, walau matahari masih menyilaukan terik panasnya.

Memulai hari pada tempat yang memiliki nilai budaya dan agama yang berbeda memang bukan perkara yang mudah. Malangnya, tuan rumah pertama yang coba menggodaku adalah anjing yang merupakan hewan kesayangan masyarakat setempat selain babi. Aku hanya pasrah menyadari bahwa selama dua tahun ke depan kehidupanku pasti dipenuhi berbagai tantangan seperti ritual penyucian (sama') dan hal-hal sulit lainnya.

Ketika pertama tiba, ingin rasanya aku makan sayur, ikan, ayam atau daging, namun rasanya tidak mungkin. Alhamdulillah, pada akhirnya aku menemukan warung yang menjual sayur, ikan dan bahan-bahan masakan lainnya sehingga aku bisa memasak sendiri. Di luar dugaan, ternyata kesibukan kuliah menyita waktuku. Keadaan memaksaku untuk membeli makanan yang berbahan dasar sayuran di kantin kampus. Namun, sahabat seorang temanku mengatakan bahwa semua makanan tersebut menggunakan babi sebagai penyedap. Astaghfirullah, dan akhirnya  kejadian itu membulatkan tekadku dan teman-teman untuk selalu memasak sendiri sesibuk apapun kegiatan kami.

Di sisi lain, masyarakat setempat bahkan mahasiswa lokal sering aneh melihat pakaian kami yang menutupi seluruh tubuh dan memakai jilbab. Tatapan mereka begitu menghujam dari atas kepala hingga ujung kaki kami, seakan ingin bertanya, namun sepertinya bibir mereka kelu, Aku sadar bahwa kebanyakan dari mereka tidak bisa menggunakan bahasa Inggris sedangkan pengetahuanku tentang bahasa Mandarin juga sangat dangkal. Sebagian dari mereka merasa simpati dengan penampilan kami, ada juga yang menganggap aneh bahkan mencibir. Hal itu mungkin disebabkan oleh ketidaktahuan mereka terhadap Islam. Bahkan sepengetahuanku, hanya ada aku, teman-teman, beserta beberapa orang pekerja dari Indonesia yang beragama Islam di sana.

Salah seorang dosenku juga pernah menanyakan perihal mengapa aku dan teman-teman selalu meminta izin untuk sholat pada waktu siang dan petang. Dia bertanya apakah kami melakukannya pada dua waktu itu saja. Aku mengatakan kepadanya bahwa kami melakukannya lima waktu dalam sehari. Raut wajahnya berubah seketika dan menanyakan bagaimana bisa aku berinteraksi dengan Tuhan sesering itu. Setelah kejadian tersebut, episode-episode pertanyaan sejenis itu pun kerap menghampiriku. Profesor pembimbingku adalah salah seorang yang ingin mengetahui banyak mengenai Islam. Pertanyaan-pertanyaan seperti alasan memakai jilbab, tidak memakan babi dan merayakan Natal sering dilontarkan kepadaku. Aku coba menjelaskannya berdasarkan pemahamanku. Namun kusadari, ternyata aku harus lebih banyak membaca untuk menemukan jawaban yang lebih tepat baginya. Dan tanpa disengaja, aku bertemu dengan salah satu pengurus masjid di Taipei. Dia memberikanku sebuah Al-Qur’an versi mandarin, beberapa buku pedoman tauhid, artikel, dan buku-buku keislaman lainnya. Allah memang telah menuntunku agar dapat memberikan buku-buku tersebut kepada orang-orang yang membutuhkan pengetahuan tentang Islam. Dan di saat ini, aku bersyukur bahwa ternyata jalan yang Allah pilihkan untukku menuaikan banyak hikmah yang sangat berguna untukku dan orang-orang di dekatku. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Lorong kisah...


Oleh: Rahmawati Usman, Master Student at Chemical Engineering and Materials Science, Yuan Ze University, Neili-Taiwan

Hmmm….
Memang agak aneh sih klu diperhatikan tapi ini “bukan cerita biasa (BCB)”.. hehehee…
Bangun pagi krn harus kerja…kerja..kerja…Maklum beasiswa cuma bs gali lubang tutup lubang, terpaksa deh harus nyari tambahan..
Alhamdulillah udah sebulan joint part time job di library (Asik ambil gaji pertama) (^_^)….
Untuk jam kerja aku selalu milih jam pagi mulai 8 pagi sampai 12 siang, cuma 4 jam sehari, dua kali dlm seminggu…

Nah skarang cerita kita mulai, nyampe library tugas pertama buka pintu dr dari B1 ampe lantai 2 (olahraga naik turun tangga ), setiap melewati lorong, rak yang dipenuhi buku-buku seakan ikut menyapa “zao an” (met pagi in Chinese), bau khas buku selalu menyusup lubang hidung bau usang seperti lama tak tersentuh, namun ia tersenyum krn tak berdebu.
Setelah itu saatnya menyusun koran, ini hal yang menyenangkan krn koran Taiwan banyak aneka ragam gambarnya, ibaratnya aku jadi anak TK y belum bisa baca tp buka buku cerita y banyak gambarnya (maklum tulisan paku semua jd selama dtaiwan jd buta huruf ). Naik tangga lagi, nyusun koran ke raknya (harapan kurus krn naik turun tangga tak pernah terwujubkan (=_=’)..
Cerita ini memang dmulai dari naik turun tangga, karena saat itu segala penjuru library keliatan. Pagi hari pengunjung rame yang datang, aku pun terkesima dengan semangat pelajar dsini dpagi hari mereka bangun awal dan memenuhi pustaka. Tapi hal satu ini yang cukup menggelitik.

Mereka datang awal, melewati gate library dengan semangat, menerobos lorong rak buku-buku, memilih buku-buku yang dinginkan,mendapatkan satu buku y diinginkan perjalanan mereka berlanjut pada pencarian buku kedua….ketiga..keempat…kelima…dan entah keberapa y aku jga tidak tahu. Namun aneh’a buku itu bukan untuk dilihat, diraba, diterawang (iklan TV uang palsu hahah) ataupun dibaca. Dan ternyata buku itu djadikan alat pengganjal tidur alias bantal…OMG (kata anak ABG OMG “oh my gosh” lg ngetrend)….
Treng…treng..trengggg…..Apa yang sedang terjadi??????

Perjuangan bangun pagi (walau gak harus mandi :)), datang ke library (jalankah, sepedaan kah, motoran kah), muter2 nyari buku dan berakhir di tidur dimeja beralaskan buku. Sungguh belum dapat dmengerti. Mungkin kah suasana library meningkatkan gairah tidur????. Klu dilihat lagi, memang bisa dikatakan klu library tempat y nyaman untuk tidur. Suasana yang senyap, ruangan yang bersih, dan juga sejuk (untuk musim panas ini). Hmmmmm (geleng2 sendiri)…..

Namun note ini hanya selingan diwaktu kerja, aku tidak bs memastikan persentase pelajar y memilih meneruskan perjalanan tidurnya di library. Lelah jari ini menari di atas keyboard putih y berubah kuning, menandakan cerita akan berakhir disini..

Hari Pertama di Negeri “Formosa”

Oleh: Hendri Ahmadian. Master student at Chung Hua University, Hsinchu-Taiwan.


Bingung. Itulah situasi yang kami hadapi saat menginjakkan kaki di Taiwan. Kami (rombongan penerima beasiswa pemda NAD) berkesempatan untuk melanjutkan studi di Taiwan – dengan segala pengorbanan dan kerja keras – akhirnya semua urusan bisa kami selesaikan dengan tepat waktu.

Sebenarnya kami diharapkan, hadir di Taiwan akhir bulan September 2009. Tapi kenyataan berkata lain. Berbagai proses administrasi harus kami selesaikan, sehingga kami tidak bisa datang di akhir bulan september.
Dimulai dari pengurusan surat kesehatan, dilanjutkan dengan pengurusan visa – yang terkesan banyak sekali prosedurnya – ditambah lagi kurang pedulinya Panitia Beasiswa terhadap kami. Akibatnya kami harus mengurus sendiri. Memang butuh pengorbanan untuk sebuah perjuangan.

Alhamdulillah kami tiba di Taiwan sekitar tanggal 10 Oktober 2009. Kami beranggotakan 10 orang, 3 orang mengambil Doktor dan 7 orang mengambil program Master.

Kembali ke hari pertama di Taiwan. Masalah pertama yang kami hadapi adalah bahasa. Kami agak kewalahan berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Karena masyarakat Taiwan menggunakan bahasa Mandarin sebagai bahasa Nasional baru disusul dengan bahasa Inggris. Pengetahuan dasar tentang bahasa Mandarin sangat penting, sebagai modal untuk berkomunikasi dengan masyarakat sekitar.

Masalah kedua adalah makanan. Susah kita untuk menjumpai makanan yang cocok (halal). Penduduk taiwan banyak mengkonsumsi daging babi dan sebagian produk makanan diolah dengan daging tersebut.  Kami harus hati-hati dan teliti. Tidak sembarangan untuk makan. Dibalik itu semua kami harus tetap semangat, biar bagaimana pun kami telah tiba di Taiwan. Mau nggak mau, kami harus bisa mengatasinya..Semoga…Amin

=~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~=~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~=~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~=

Kagum. Itulah kesan di hari kedua kami di kota Hsinchu, Taiwan. Kami melihat betapa disiplinnya mereka terhadap waktu. Benar-benar pas waktunya. Sebagai contoh jadwal Bus berangkat. Jadwal yang ditempel di papan informasi, pas dengan waktu berangkat. Situasi ini berbeda jauh dengan kondisi di Banda Aceh.

Kedua, kota Hsinchu begitu teratur dan bersih. Kesadaran masyarakat terhadap kebersihan begitu tinggi. Secara umum sistem transportasi di Taiwan sudah bagus. Ada bus dan kereta api. Jadwalnya bisa dilihat di stasiun atau di halaman web. Dan lagi-lagi kondisi ini berbeda jauh dengan Banda Aceh.

Sekiranya kondisi ini ada di Banda Aceh, mungkin Banda Aceh akan menjadi daerah maju seperti Taiwan. Semoga.

Sumber: Hendri

Daftar Universitas di Taiwan

Meski sebuah "negara" yang kecil, Taiwan memiliki banyak universitas, baik negeri maupun swasta. Universitas yang negeri biasanya ditandai dengan embel-embel kata National di awal namanya, sedangkan yang swasta hanya mengunakan namanya saja (tanpa dibubuhi kata national di awalnya namanya). Berikut adalah list sebagian universiatas di Taiwan dan alamat websitenya.
No.University NameWebsite



1National Chengchi Universityhttp://www.nccu.edu.tw



2National Tsing Hua Universityhttp://www.nthu.edu.tw



3National Taiwan Universityhttp://www.ntu.edu.tw



4National Taiwan Normal Universityhttp://www.ntnu.edu.tw



5National Cheng Kung Universityhttp://www.ncku.edu.tw



6National Chung Hsing Universityhttp://www.nchu.edu.tw



7National Chiao Tung Universityhttp://www.nctu.edu.tw



8National Central Universityhttp://www.ncu.edu.tw



9National Sun Yat-sen Universityhttp://www.nsysu.edu.tw



10National Taiwan Ocean Universityhttp://www.ntou.edu.tw



11National Chung Cheng Universityhttp://www.ccu.edu.tw



12National Kaohsiung Normal Universityhttp://www.nknu.edu.tw



13National Changhua University of Educationhttp://www.ncue.edu.tw



14National Yang-Ming Universityhttp://www.ym.edu.tw



15National Taipei Universityhttp://www.ntpu.edu.tw/chinese/



16National Chiayi Universityhttp://www.ncyu.edu.tw



17National University of Kaohsiunghttp://www.nuk.edu.tw



18National Dong Hwa Universityhttp://www.ndhu.edu.tw



19National Chi Nan Universityhttp://www.ncnu.edu.tw



20National Taiwan University of Science and Technologyhttp://www.ntust.edu.tw



21National Yunlin University of Science and Technologyhttp://www.yuntech.edu.tw



22National Pingtung University of Science and Technologyhttp://www.npust.edu.tw



23National Taipei University of Technologyhttp://www.ntut.edu.tw



24National Kaohsiung First University of Science and Technologyhttp://www.nkfust.edu.tw



25National Kaohsiung University of Applied Scienceshttp://www.kuas.edu.tw



26Taipei National University of the Artshttp://www.tnua.edu.tw



27National Taiwan University of Artshttp://www.ntua.edu.tw



28National Taitung Universityhttp://www.ntttc.edu.tw



29National Ilan Universityhttp://www.niu.edu.tw



30National United Universityhttp://www.nuu.edu.tw



31National Formosa Universityhttp://www.nhit.edu.tw



32National Kaohsiung Marine Universityhttp://www.nkmu.edu.tw



33Tainan National University of the Artshttp://www.tnnua.edu.tw



34National University of Tainanhttp://www.ntntc.edu.tw



35National Taipei University of Educationhttp://www.ntptc.edu.tw



36National Hsinchu University of Educationhttp://www.nhctc.edu.tw



37National Taichung Universityhttp://www.ntctc.edu.tw



38National Pingtung University of Educationhttp://web.npue.edu.tw



39National Penghu Universityhttp://www.npu.edu.tw



40National Chin-Yi University of Technologyhttp://www.ncut.edu.tw



41National Taiwan Sport Universityhttp://www.ntsu.edu.tw



42National Taiwan College of Physical Educationhttp://www.ntcpe.edu.tw



43National Taipei College of Nursinghttp://www.ntcn.edu.tw



44National Pingtung Institute of Commercehttp://www.npic.edu.tw



45National Taichung Institute of Technologyhttp://www.ntit.edu.tw



46National Kaohsiung Hospitality Collegehttp://www.nkhc.edu.tw



47National Taipei College of Businesshttp://www.ntcb.edu.tw



48National Kinmen Institute of Technologyhttp://www.km.kuas.edu.tw



49National Taiwan College of Performing Artshttp://www.ntjcpa.edu.tw



50National Taichung Nursing Collegehttp://www.ntcnc.edu.tw



51National Tainan Institute of Nursinghttp://www.ntin.edu.tw



52National Taitung Junior Collegehttp://www.ntc.edu.tw



53National Open Universityhttp://www.nou.edu.tw



54Tunghai Universityhttp://www.thu.edu.tw



55Fu Jen Catholic Universityhttp://www.fju.edu.tw



56Soochow Universityhttp://www.scu.edu.tw



57Chung Yuan Christian Universityhttp://www.cycu.edu.tw



58Tamkang Universityhttp://www.tku.edu.tw



59Chinese Culture Universityhttp://www.pccu.edu.tw



60Feng Chia Universityhttp://www.fuc.edu.tw



61Providence Universityhttp://www.pu.edu.tw



62Chang Gung Universityhttp://www.cgu.edu.tw



63Yuan Ze Universityhttp://www.yzu.edu.tw



64Chung Hua Universityhttp://www.chu.edu.tw



65Dayeh Universityhttp://www.dyu.edu.tw



66Huafan Universityhttp://www.hfu.edu.tw



67I-Shou Universityhttp://www.isu.edu.tw



68Shih Hsin Universityhttp://www.shu.edu.tw



69Ming Chuan Universityhttp://www.mcu.edu.tw



70Shih Chien Universityhttp://www.usc.edu.tw



71Chaoyang University of Technologyhttp://www.cyut.edu.tw



72Kaohsiung Medical Universityhttp://www.kmu.edu.tw



73Nanhua Universityhttp://www.nhu.edu.tw



74Aletheia Universityhttp://www.au.edu.tw



75Tatung Universityhttp://www.ttu.edu.tw



76Southern Taiwan Universityhttp://www.stut.edu.tw



77Kun Shan Universityhttp://www.ksu.edu.tw



78Chia Nan University of Pharmacy &  Sciencehttp://www.chna.edu.tw



79Shu-Te Universityhttp://www.stu.edu.tw



80Tzu Chi Universityhttp://www.tcu.edu.tw



81Taipei Medical Universityhttp://www.tmu.edu.tw



82Chung Shan Medical Universityhttp://www.csmu.edu.tw



83Lunghwa University of Science and Technologyhttp://www.lht.edu.tw



84Fooyin Universityhttp://www.fy.edu.tw



85Minghsin University of Science and Technologyhttp://www.must.edu.tw



86Chang Jung Christian Universityhttp://www.cjcu.edu.tw



87Hungkuang Universityhttp://www.hk.edu.tw



88China Medical Universityhttp://www.cmu.edu.tw



89Ching Yun Universityhttp://www.cyu.edu.tw



90Cheng Shiu Universityhttp://www.csit.edu.tw



91Vanung Universityhttp://www.vnu.edu.tw/



92Hsuan Chuang Universityhttp://www.hcu.edu.tw



93Chienkuo Technology Universityhttp://www.ctu.edu.tw



94Ming Chi University of Technologyhttp://www.mcut.edu.tw



95Kao Yuan Universityhttp://www.kyit.edu.tw



96Tajen Universityhttp://www.tajen.edu.tw



97St. John's Universityhttp://www.sjsmit.edu.tw



98Ling Tung Universityhttp://www.ltu.edu.tw



99China University of Technologyhttp://www.ckitc.edu.tw



100Central Taiwan University of  Science and Technologyhttp://www.ctust.edu.tw



101Asia Universityhttp://www.thmu.edu.tw



102Kainan Universityhttp://www.knu.edu.tw



103Fo Guang Universityhttp://www.fgu.edu.tw



104Tainan University of Technologyhttp://www.tut.edu.tw/



105Far East Universityhttp://www.feu.edu.tw



106Yuanpei Universityhttp://www.yust.edu.tw



107Jinwen University of Science and Technologyhttp://www.just.edu.tw/



108Chung Hwa University of Medical Technologyhttp://www.hwai.edu.tw



109Tungnan Universityhttp://www.tnu.edu.tw/



110Takming University of Science and Technologyhttp://www.takming.edu.tw



111Mingdao Universityhttp://www.mdu.edu.tw



112Leader Universityhttp://www.leader.edu.tw



113Nan Kai Institute of Technologyhttp://www.nkut.edu.tw



114China University of Science and Technologyhttp://www.chit.edu.tw/www/cust.html



115Overseas Chinese Universityhttp://www.ocu.edu.tw



116Yu Da Universityhttp://www.ydu.edu.tw



117Diwan Universityhttp://www.dwu.edu.tw



118Hsing Kuo Unervisity of Managementhttp://www.hku.edu.tw



119Ta Hwa Institute of Technologyhttp://www.thit.edu.tw



120Wenzao Ursuline College of Languageshttp://www.wtuc.edu.tw



121Dahan Institute of Technologyhttp://www.dahan.edu.tw



122Tzu Chi College of Technologyhttp://www.tccn.edu.tw



123Yung Ta Institute of Technology and Commercehttp://www.ytit.edu.tw



124Fortune Institute of Technologyhttp://www.fjtc.edu.tw



125Technology and Science Institute of Northern Taiwanhttp://www.kwit.edu.tw



126Chihlee Institute of Technologyhttp://www.chihlee.edu.tw



127Hsing Wu Collegehttp://www.hwc.edu.tw



128Oriental Institute of Technologyhttp://www.oit.edu.tw



129Nanya Institute of Technologyhttp://www.nanya.edu.tw



130Chung Chou Institute of Technologyhttp://www.ccut.edu.tw



131Transworld Institute of Technologyhttp://www.tit.edu.tw



132Wufeng Institute of Technologyhttp://www.wfc.edu.tw



133Meiho Institute of Technologyhttp://www.meiho.edu.tw



134Hsiuping Institute of Technologyhttp://www.hit.edu.tw



135Toko Universityhttp://www.toko.edu.tw



136De Lin Institute of Technologyhttp://www.dlit.edu.tw



137Nan Jeon Institute of Technologyhttp://www.njtc.edu.tw



138Lan Yang Institute of Technologyhttp://www.fit.edu.tw



139Lee-Ming Institute of Technologyhttp://www.lit.edu.tw



140Tung Fang Institute of Technologyhttp://www.tf.edu.tw



141Ching Kuo Institute of Management and Healthhttp://www.cku.edu.tw



142Chang Gung Institute of Technologyhttp://www.cgit.edu.tw



143Chungyu Institute of Technologyhttp://www.cyjcba.edu.tw



144Tatung Institute of Commerce and Technologyhttp://www.ttc.edu.tw



145Chin Ming Institute of Technologyhttp://www.chinmin.edu.tw



146Kao Fong College of Digital Contentshttp://www.kfut.edu.tw



147Hwa Hsia Institute of Technologyhttp://www.hwh.edu.tw



148Taiwan Hospitality and Tourism Collegehttp://www.tht.edu.tw



149Dharma Drum Buddhist Collegehttp://www.ddbc.edu.tw



150Taipei College of Maritime Technologyhttp://www.tcmt.edu.tw



151Mackay Medical  Collegehttp://www.mmc.edu.tw



152Kang-Ning Jr. College of Medical Care and Managementhttp://www.knjc.edu.tw



153Mackay Medicine , Nursing and Management Collegehttp://www.mkc.edu.tw



154Jen-Teh Junior College of Medicine, Nursing and Managementhttp://www.jente.edu.tw



155Shu-Zen College of Medicine and Managementhttp://www.szmc.edu.tw



156Tzu Hui Institute of Technologyhttp://www.tzuhui.edu.tw



157Cardinal Tien College of Healthcare & Managementhttp://www.ctcn.edu.tw



158Min-Hwei College of Health Care Managementhttp://www.mhvs.tnc.edu.tw



159KaoMei College of Health Care & Managementhttp://www.kmvs.khc.edu.tw



160Yuh-Ing Jr. College of Health Care & Managementhttp://www.yuhing.kh.edu.tw



161Chung-Jen College of Nursing, Health Sciences and Managementhttp://www.cjc.edu.tw



162St. Mary's Medicine, Nursing and Management Collegehttp://www.smc.edu.tw/



163Hsin Sheng College of Medical Care and Managementhttp://www.hsvs.tyc.edu.tw



164Taipei Municipal University of Educationhttp://w3.tmue.edu.tw/front/bin/home.phtml



165Taipei Physical Education Collegehttp://www.tpec.edu.tw



166The Open University of Kaohsiunghttp://www.ouk.edu.tw